Wednesday, July 31, 2019

Kohesi Sosial dalam Ajaran Islam dan Budha

KOHESI SOSIAL DALAM AJARAN ISLAM DAN BUDHA:
Studi Komparatif Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar dan Yayasan Budha Tzu chi Indonesia 

Konflik agama terjadi disebabkan hilangnya sikap toleran terhadap agama yang berbeda, paham agama yang berbeda dan terhadap adat dan budaya masyarakat asli. Konflik antar agama dapat direduksi sebagaimana institusi agama atau institusi yang berlandaskan pada agama, seperti Yayasan Budha Tsu Chi Indonesia dan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, walaupun dengan latar belakang agama berbeda, dapat merefleksikan pemahaman keagamaannya, melalui identitas keagamaan, tanpa harus menafikan identitas agama lain. perbedaan teologi (baca: ajaran agama), ketika diterjemahkan dalam konteks sosial, maka teologi dapat menjadi penghubung dan perekat terhadap agama-agama dalam kehidupan sosial. 

Penulisan buku ini menggunakan pendekatan teologi sosial dan pendekatan strukturasi sebagai analisa sosial, serta menggunakan hermeneutika, sebagai alat interpretasi. Sedangkan metode penelitian menggunakan studi komparatif. Buku ini berpandangan, sebagaimana Nurcholis Madjid dan Zainun Kamal, yang menyatakan setiap agama mengajarkan kepasrahan dan ketundukan terhadap Tuhan, dalam istilah Nurcholis Madjid disebut al-islam dan al-din. Perbedaan-perbedaan dalam paham agama, harus disadari disebabkan oleh perbedaan terhadap pemahaman, maka perbedaan itu harus tetap disandarkan kepada Tuhan, yang mengajarkan rahmatan li al-‘alamin. 


Detail:
Penulis: Saepullah
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2017

Friday, July 12, 2019

Implementasi Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada Perbankan Islam di Indonesia

Buku ini bertujuan menelaah konsep dan implementasi Good Corporate Governance (GCG) pada perbankan Islam di tanah air.Corporate governance mewakili prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang sesungguhnya telah ada dalam sejarah peradaban manusia dan dipraktikkan sejak pertama kali adanya perusahaan.

Buku ini membuktikan bahwa implementasi tata kelola perusahaan yang baik (GCG) pada BMI sudah dilaksanakan dengan cukup baik, BSM sangat baik, dan BNI Syariah baik. Kinerja manajemen bank Islam yaitu pelaksanaan GCG terdiri dari Transparansi (Keterbukaan), Akuntabilitas, Responsibilitas (Tanggungjawab), Profesionalisme, Kemandirian dan Kewajaran (Fairness), serta kepatuhan terhadap Prinsip-prinsip syariah (Sharia compliance). GCG tersebut dapat membentuk budaya kerja yang islami. Selanjutnya dilakukan penilaian (Assessment) secara periodik dan berkesinambungan serta diupayakan untuk dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan peraturan atau regulasi. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan GCG pada BMI, BSM dan BNI Syariah telah sesuai dengan aturan yang meliputi tiga aspek governance, yaitu governance structure, governance process dan governance outcome.


Detail:
Penulis: Sugeng Priyono
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2019
Halaman: xxii + 340 hlm
ISBN: 978-602-5576-34-8



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
silakan mengutif dari buku ini dengan mencantumkan sumber

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis




Tuesday, July 9, 2019

Menulis Gagasan Mempercepat Keberhasilan

Menulis Gagasan Mempercepat Keberhasilan
(Alih Status IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2002)


Melalui buku ini, Pembaca akan memperoleh sedikitnya 6 hal. Pertama, transformasi IAIN menjadi UIN ditargetkan terwujud dalam waktu 3 semester. Target ini disampaikan sejak Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dilaksanakan tanggal 2-3 September 2000 dan terwujud menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 20 Mei  2002. Banyak kegiatan yang digagas dan dilaksanakan sebelum perubahan tersebut terjadi misalnya sosialisasi pemahaman terhadap persyaratan sebuah universitas, perencanaan program dan anggaran, penulisan naskah akademik, penyusunan proposal pembukaan program studi dan perubahan kelembagaan. Kedua, upaya penguatan kelembagaan dalam rangka mempersiapkan menjadi Universitas misalnya pengadaan buku ajar, penguatan laboratorium, pembenahan kurikulum, seleksi calon mahasiswa, dan penguatan perpustakaan. Ketiga, penguatan Fakultas dan Program Studi. Berbagai kegiatan yang digagas dan dilaksanakan untuk mempersiapkan menjadi Universitas antara lain mencakup penguatan kurikulum, pengembangan Fakultas dan Program Studi, dan pengadaan dosen program studi, serta penulisan karya ilmiah mahasiswa. Keempat, Integrasi keilmuan. Sebelum beralih status menjadi Universitas, telah dilakukan pencanangan kebijakan tentang integrasi ilmu agama dengan ilmu lain. Atas dasar ini maka diktum yang tercantum dalam SK Presiden Nomor 31 Tahun 2002 tanggal 20 Mei 2002 mengenai alih status IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah “dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan serta proses integrasi antara ilmu agama dengan ilmu lain”. Kelima, tertib Administrasi. Tertib administrasi yang menjadi prioritas untuk menyongsong kehadiran UIN adalah dengan memperkuat komputerisasi dan penyajian database secara online. Keenam, sosialisasi kelembagaan. Setelah resmi menjadi UIN terhitung sejak 20 Mei 2002 upaya yang dilakukan selanjutnya adalah penyesuaian berbagai tatanan universitas, dan sosialisasi termasuk menjadi salah satu anggota SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) Perguruan Tinggi Negeri yang anggotanya adalah semua Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. 

Adapun pelajaran paling berharga dalam pengalaman mempersiapkan transformasi IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini adalah ditemukannya kata-kata hikmah “Menulis Gagasan Mempercepat Keberhasilan”.

Detail:
Penulis: Suwito
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2019
Halaman: vi+396 hlm



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Friday, March 29, 2019

Tuhan dan Ruang: Sebuah Perdebatan Metafisika

Tuhan dan Ruang: Sebuah Perdebatan Metafisika

Banyak di antara kita yang tidak berani secara bebas berimajinasi tentang gambaran Tuhan. Berpikir bebas tentang gambaran Tuhan, dikhawatirkan dapat menimbulkan kesesatan. Mereka menerima gambaran tentang Tuhan bersifat doktriner. Sikap pasif seperti itulah yang justru berbahaya.

Tuhan yang kita yakini sebagai yang Al-Haq (Maha Benar), belum tentu Tuhan yang sungguh-sungguh Al-Haq. Bagaimana kita bisa menjamin bahwa “Tuhan yang kita yakini sebagai Al-Haq” adalah sungguh-sungguh Al-Haq ? Dengan cara apa kita bisa haq al-yaqỉn (derajat keyakinan yang tidak sedikitpun meragukan) bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Al-Haq?

Satu-satunya cara untuk menjamin bahwa Tuhan yang kita yakini sebagai Al-Haq adalah dengan menguji pemahaman kita tentang Tuhan itu sendiri melalui berpikir bebas (termasuk keberanian mengkritik Tuhan). Jika kita beranggapan bahwa dengan mengkritik Tuhan “kita bakalan dosa”, maka itu sama artinya kita telah menistakan Tuhan itu sendiri. Mana mungkin Tuhan takut sama akal yang diciptakan-Nya sendiri? Berpikirlah tentang gambaran Tuhan secara bebas sebebas-bebasnya, sekalipun nantinya sesat. Hanya dengan berani berpikir bebaslah, maka terbuka ruang potensi bagi penemuan Tuhan Al-Haq. Sebaliknya kalau kita pasif berpikir, maka potensi menemukan Tuhan AlHaq menjadi tertutup.


Detail:
Penulis: Dedy Ibmar
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: xiv + 122 hlm
ISBN: 978-602-5576-25-6



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Thursday, September 13, 2018

Hadis-Hadis Sunni dalam Kitab Mut’ah al-Nisa’ fi al-Kitab wa al-Sunnah

Hadis dalam perspektif Sunni dan Syi’ah pada dasarnya mengandung arti catatan biografi yang berasal dari figur sentral dan diriwayatkan melalaui jalur periwayatan terpercaya. Sebagaimana dalam tradisi Sunni, hadis dalam tradisi Syi’ah, merupakan asosiasi dari dua sistem konstruktif, yaitu sanad (aspek wurud) dan matan (aspek dilalah). Dalam tradisi ilmiah Sunni dan Syi’ah, sanad dan matan hadis adalah dua aspek penting yang harus diteliti dalam rangka klarifikasi dan verifikasi tentang validitas dan originalitas sebuah hadis.

Untuk melakukan kerja ilmiah tersebut, baik Sunni atau pun Syi’ah masing-masing menggunakan pisau analisis dengan pendekatakan Ilmu Riwayah1 dan Ilmu Dirayah. Kedua ilmu ini masing-masing diakui oleh Sunni dan Syi’ah sebagai sebuah produk asli yang diwariskan oleh ulama-ulama mereka sebelumnya. Terlepas dari perdebatan tentang siapa pertama kali yang mencetuskan ilmu riwayah dan ilmu dirayah, pada umumnya dua kelompok Islam ini menggunakan term-term konseptual ilmu hadis yang sama, termasuk ilmu turunan Ilmu Hadis seperti ‘Ilm Rijal al-Hadis, ‘Ilm Nasikh Mansukh Hadis, Ilm Jarh wa Ta’dil, Ilmu Asbabul Wurud Hadis, dan lain sebagainya. Melihat perkembangan Ilmu Hadis Sunni dan Syi’ah, kitab-kitab ilmu hadis secara implisit ingin menyuarakan pada dunia akademik bahwa teori-teori Ilmu Hadis yang ditawarkan bukan sekedar plagiasi atau rekayasa, tetapi merupakan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para ulama terdahulu.

Detail:
Penulis: Ceceng Mumu Muhajirin
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: xviii + 190 hlm
ISBN: 978-602-5576-15-7



Catatan:


silakan mengutif dari buku ini dengan menyebutkan sumber
semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini




Monday, September 3, 2018

Kaya Gagasan Miskin Kesulitan

Hidup pada dasarnya adalah tantangan. Tidak ada kehidupan manakala tidak ada tantangan.  Tantangan adalah juga ciri kehidupan. Eksistensi hidup ada pada tantangan tersebut. Tantangan juga adalah masalah. Tanda suatu kehidupan adalah pada adanya masalah. Adanya masalah berarti adanya kehidupan. Oleh karena itu, masalah tidak harus dihindari melainkan dihadapi. Masalah itu pada dasarnya juga perubahan dan perubahan tersebut merupakan hidup itu sendiri. Tidak mungkin disebut hidup jikalau tidak ada perubahan. Perubahan merupakan tanda bagi kehidupan. Berani hidup berarti berani juga berubah. 

Berdasarkan informasi kehidupan masyarakat masa lalu, kehidupan bukan berarti diam. Diam dapat berarti tidak eksis. Eksis ada pada hidup yang berubah-ubah. Masyarakat yang statis cenderung disebut sebagai masyarakat yang tidak eksis. Eksistensi manusia dan masyarakat ada pada perubahan. Perubahan itu dapat terjadi karena adanya gagasan. Gagasan yang selalu muncul mengakibatkan banyak perubahan. Gagasan muncul dapat dikarenakan untuk menghadapi tantangan. Akan tetapi munculnya suatu gagasan dapat juga karena menghadirkan tantangan itu sendiri. Oleh karena itu gagasan menjadi sentral bagi wujudnya perubahan. 

Gagasan dapat mewujudkan tantangan. Tantangan dapat dimaknai juga sebagai kesulitan. Kesulitan atau tantangan menjadikan sesuatu menjadi kehidupan. Kesulitan merupakan bentuk lain dari suatu kehidupan. Kehidupan berarti juga kesulitan dan juga tantangan serta masalah. Dengan demikian maka masalah, tantangan, kesulitan dan juga kehidupan pada dasarnya adalah satu eksistensi. Semakin sulit berarti semakin tinggi tantangan. Semakin tinggi tantangan semakin tinggi juga masalah. Semakin tinggi masalah berarti semakin menunjukkan eksistensi kehidupan. 

Detail:
Penulis: Suwito
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: vi + 248 hlm



Catatan:

untuk membaca online klik pada tombol dibawah ini
silakan mengutif dari buku ini dengan menyebutkan sumber

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis




Friday, August 31, 2018

Tinggi Rasionalitas Santun Perilaku

Pendidikan akhlaq merupakan permasalahan utama yang selalu menjadi tantangan manusia dalam sepanjang sejarahnya. Sejarah bangsa-bangsa - baik yang diabadi¬kan dalam al-Quran seperti kaum 'Ad, Samud, Madyan, dan Saba’ maupun yang didapat dalam buku-buku sejarah -menunjukkan bahwa suatu bangsa akan kokoh apabila akh¬laqnya kokoh dan sebaliknya suatu bangsa akan runtuh apabila akhlaqnya rusak.

Pendidikan Akhlaq menurut Ibn Miskawaih didasarkan pada konsepnya tentang manusia. Tugas pendidikan akhlaq adalah memperkokoh daya-daya positif yang dimiliki manusia agar mencapai tingkatan manusia yang seimbang/harmonis (al-'adalah) sehingga perbuatannya mencapai tingkat perbuatan ketuhanan (af'al ilahiyah). Perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang semata-mata baik dan yang lahir secara spontan.

Detail:
Penulis: Suwito
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: xvii + 178 hlm
ISBN: 978-602-5576-13-3


Catatan:

untuk membaca online klik pada tombol dibawah ini
silakan mengutif dari buku ini dengan menyebutkan sumbe

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Luka yang Tersirat

Kadang persahabatan terasa manis, penuh tawa dan cerita. Tapi nggak jarang juga berubah jadi pahit: salah paham kecil bisa jadi besar, gosip...