Friday, September 23, 2022

Etika Perang dalam Al-Qur’an: Studi Kasus Ayat-ayat tentang Ash’hur al-Ḥurum

Etika Perang dalam Al-Qur’an: Studi Kasus Ayat-ayat tentang Ash’hur al-Ḥurum


Membicarakan tentang etika, tentu tak terlepas dari sejarah kemunculannya, yakni pada periode Islam klasik. Akan tetapi, berdasarkan manuskrip-manuskrip atau naskah-naskah kuno yang ditemukan dan diterjemahkan, karya-karya pemikiran Yunani klasik jauh lebih dulu ditulis. Hal tersebut diketahui berdasarkan konteks mata rantai sejarah ketika bangsa Arab menaklukkan sebuah wilayah, bahasa asli Negara tersebut tidak dihilangkan atau diubah.

Menurut Burhanuddin Salam istilah etika berasal dari kata latin, yakni ethic, sedangkan dalam bahasa Greek, ethikos yaitu a body of moral priciples or values. Ethic, arti sebenarnya ialah kebiasaan, habit. Jadi pengertian aslinya, apa yang disebutkan baik itu adalah yang sesuai dengan kebiasaan dan kebutuhan manusia. Perkembangan pengertian etika tidak lepas dari substansinya bahwa etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana yang jahat. Adapula istilah lain dari kata etika, yaitu moral, susila, budi pekerti, akhlak. Etika merupakan ilmu bukan sebuah ajaran. Etika dalam bahasa Arab disebut akhlaq, merupakan jamak dari kata khuluq yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, watak, adab, dan agama.

Kata-kata seperti etika, etis dan moral tidak terdengar dalam ruang kuliah saja dan tidak menjadi monopoli kaum cendekiawan. Di luar kalangan intelektual pun sering disinggung tentang hal-hal seperti itu. Memang benar, obrolan di pasar atau di tengah penumpang-penumpang opelet kata-kata itu jarang sekali muncul. Tapi jika membuka surat kabar atau majalah hampir setiap hari kita menemui kata-kata tersebut berulang kali kita membaca kalimatkalimat semacam ini: “dalam dunia bisnis etika merosot terus” etika dan moral perlu ditegaskan kembali”, “ Adalah tidak etis, jika…” Di televisi akhir-akhir ini banyak iklan yang kurang etis dan sebagainya. Kita mendengar tentang “moral Pancasila” dam “etika Pembangunan”. Juga dalam pidato-pidato para pejabat pemerintah kata “etika” dan “moral”, ternyata kita maksudkan sesuatu yang penting.

Detail: 
Judul Buku: Etika Perang dalam Al-Qur’an: Studi Kasus Ayat-ayat tentang Ash’hur al-Ḥurum
Penulis: Sayyida
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: 156
ISBN: 978-623-5448-03-9

Tuesday, September 20, 2022

Penanggulangan terhadap Patologi Digital Melalui Pendidikan Ruhani Berbasis Alqur’an

Penanggulangan terhadap Patologi Digital Melalui Pendidikan Ruhani Berbasis Alqur’an



Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, setidaknya sejak masa renaissance dan aufklarung. Ternyata di samping memberikan dampak positif juga melahirkan dampak negatif, seperti sekulerisme, hedonisme, meterialisme, individualisme serta keterasingan yang melanda diri umat manusia. Hal ini sebagai akibat dari modernisasi yang disokong oleh ‘ilmu pengetahuan’ yang bermuara pada rasionalisme secara berlebihan (mendewakan akal) dan berujung pada ‘penyepelean’ peran-fungsi agama hingga lahir paham sekulerisme. Media teknologi berperan dalam membentuk cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Media yang telah membuat “Jalan bebas hambatan” tidak hanya menciptakan ekonomi global, tetapi ia juga yang mengaburkan batas-batas sosial budaya, karena dunia yang dibangun sekarang ini tidak mungkin dipertahankan kedaulatan atas informasi, sebab “informasi dan alurnya juga meliputi langit bebas, dipergunakan secara bersama-sama. Budaya, sebagai identitas sebuah masyarakat, juga terpengaruh media tersebut.

Kecanggihan teknologi setidaknya telah membantu memutuskan jarak antara makrososial dan mikrososial juga antara makrobudaya dan mikrobudaya. Media membawa tema-tema publik ke dalam lingkungan privat tempat ia memasuki dan dipengaruhi oleh kondisi, orientasi dan kebiasaan lokal. Dunia publik telah dibangun dalam zaman elektronika (media), baik secara teknologi, maupun sosial budaya. Perubahan yang dianut oleh revolusi ini di antaranya bisa dilihat pada digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya. Perubahan signifikan atau juga disebut disruptive era.

Era digital sebagai era yang percepatan informasi, pengetahuan dan berita serta terobosan-terobosan aplikatif lainnya yang tujuannya memudahkan hidup manusia. Dengan era ini manusia dimudahkan segala keperluan, kebutuhan dan aktivitasnya, sehingga waktu mereka bisa efisien dan efektif. Kemudahan dan “kemanjaan” yang diberikan oleh dunia digital, kadangkala membuat manusia lalai, lupa diri terhadap kewajibannya kepada Dzat yang Maha Pencipta, sesama bahkan kepada diri sendiri. Mereka terlalu ‘asyik’ dengan dunia digital (baca: medsos), akibatnya mereka beranggapan dunia digital merupakan alat; media yang canggih yang mampu memenuhi segala kebutuhan sehingga berujung pada sebuah paradigma bahwa meskipun tidak beragama, manusia bisa hidup dan mampu mengatasi segala permasalahannya. Ini yang nantinya akan menimbulkan penyakit spiritual, moral, sosial dan mental yang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu menuntaskannya

Detail: 
Judul Buku: Penanggulangan terhadap Patologi Digital Melalui Pendidikan Ruhani Berbasis Alqur’an
Penulis: Subhan Fadli
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: 425 hlm
ISBN: 978-623-xxxx-xx-x



Sunday, September 18, 2022

Perbandingan Tafsir Al-Kasysyaf dan Tafsir Safwah Tafasir dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Kinayah

Perbandingan Tafsir Al-Kasysyaf dan Tafsir Safwah Tafasir dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Kinayah



Al-Qur’an merupakan kitab yang mempunyai nilai sastra tinggi, kendati bukan kitab sastra. Hal ini terlihat dari susunan bahasanya yang fasih dan indah, sehingga tidak ada manusia yang mampu menciptakan bahasa seindah bahasa al-Qur’an, hanya orang-orang yang mempunyai kepandaian yang cukup dalam bidang ilmu sastra yang mampu merasakan keindahannya. Posisi al-Qur’an jika ditinjau dari aspek kebahasaan memuat berbagai keunikan dan kemukjizatan, serta susunan kata dan kalimatnya seperti sifat redaksinya yang singkat tapi sarat makna mampu memuaskan akal dan kalbu. Dengan demikian mu’jizat terbesar berupa al-Quran yang di wahyukan kepada nabi Muhammad memiliki keistimewaan dalam segi bahasa bahkan telah di akui oleh ahli pakar bahasa mulai sejak dulu sampai sekarang.

Kajian kinayah dalam al-Qur’an perlu untuk dikaji dengan kajian secara komprehensp. Tanpa ada kajian-kajian seperti itu, pemahaman terhadap al-Qur’an hanya bermuara pada bentuk teksnya saja (tekstual). Kajian kinayah sangat berperan dalam memahami setiap kalimat yang mengandung kajian uslub kinayah dan pemahaman makna tersirat dalam teks baik berupa teks yang berkitan dengan akidah, hukum islam, sejarah, dan penciptaan alam. Sehingga dengan adanya kajian kinayah akan menghasilkan sebuah pemahaman yang senafas dengan tujuan mulia diturunkannya ayatayat al-Qur’an, dan jauh dari satu pemahaman yang tidak sesuai dengan hukum agama.

Kinayah merupakan teori untuk memahami kalimat sastra pada al-Qur’an. Tentunya kajian kinayah membutuhkan analisis tentang hubungan antara teori sastra Arab dengan interpretasi al-Qur’an13. Orang Arab dulu sangat pandai dalam membuat sastra dengan menggunakan bahasa Arab, oleh karena itu sastra al-Qur’an perlu untuk dijelaskan dengan konsep kinayah yang telah dijelaskan oleh ulama’ tafsir dan ahli ilmu Balaghah, seperti yang dijelaskan ulama’ klasik seperti Abd al-Qahir al-Jurjani (w. 471/1078), dalam kitab Dala ilul I’jaz, ia mengemukakan pembahasan mengenai Kinayah dalam perbedaanya antara Kinayah dan isti’arah disertai dengan uraian mengenai macam macam dan bentuknya dan serta keberadaan Kinayah yang harus di sertai keterangan, dan juga di jelaskan bahwa isti’arah, Kinayah dan majaz merupakan pilar pilar ilmu balaqhah. Dan juga di jelaskan oleh ulama’ kontemporer seperti Ahmad al-Hasyimi (1878-1943), yang dikenal kitabnya dengan kitab Jawahir al-Balaghah.


Detail: 
Judul Buku: Perbandingan Tafsir Al-Kasysyaf dan Tafsir Safwah Tafasir dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Kinayah
Penulis: Moh Habibullah
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: 199
ISBN: 978-623-xxxx-xx-x


Bantuan Tunai Bersyarat dan Kesejahteraan Masyarakat Perspektif Ekonomi Islam

Bantuan Tunai Bersyarat dan Kesejahteraan Masyarakat Perspektif Ekonomi Islam



Kesejahteraan menjadi bagian penting dalam suatu negara, permasalahan yang dihadapi negara berkembang adalah kesejahteraan warga negaranya yang belum maksimal, artinya masih banyak ketimpangan dan kemiskinan. Padahal tujuan didirikan atau dibentuknya sebuah negara adalah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Sehingga negara melakukan banyak cara, metode, aturan, alat, pendekatan, sebagai upaya untuk perbaikan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang dan menyeluruh bukan hanya dipusat kota saja, tetapi juga tersebar rata hingga kepelosak desa sekalipun.3 Negara dibutuhkan dan dibentuk untuk mewujudkan ketertiban dan kehidupan yang lebih baik dan layak untuk mencapai suatu kesejahteraan, dengan demikian, kesejahteraan menjadi harapan cita cita bagi setiap individu dan setiap masyarakat disetiap negara. Kesejahteraan diwujudkan secara utuh pada rumusan kesejahteraan yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945, selain itu komitmen tersebut juga dijabarkan di dalam batang tubuhnya, yakni Bab XIV pasal 33 tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial.

Dalam perspektif ekonomi Islam kesejahteraan memiliki arti yang sangat luas, tidak hanya menyoal material semata namun juga secara spiritual, artinya konsep kesejahteraan masyarakat tidak hanya di ukur berdasarkan nilai ekonomi saja, tapi juga mencakup nilai moral, spiritual, etika dan juga nilai social. Islam mendeskripsikan kesejahteraan secara material-spritual yaitu kehidupan sejahtera dunia dan akhirat, sehingga kesejahteraan masyarakat dalam Islam adalah falah. Menurut Imam al-Ghazali kesejahteraan adalah tercapainya kemaslahatan, yaitu tercapainya tujuan syara‟ (al-maqasid As-syariah) manusia tidak akan bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian batin melainkan setelah tercapainya kesejahteraan yang sebenarnya dari seluruh umat manusia di dunia juga sudah tercapai atau sudah terpenuhi kebutuhan rohani dan materi, tentunya kesejahteraan ini mencakup terpeliharanya agama, jiwa, akal keturunan dan harta. Jadi konsep kesejahteraan Imam Ghazali merupakan konsep kesejahteraan masyarakat yang utuh dan adil bagi seluruh umat manusia.

Ukuran kesejahteraan selalu mengalami perubahan setiap periodenya, misal pada tahun 1950 kesejahteraan masyarakat di ukur berdasarkan aspek fisik, seperti berat badan, tinggi dan gizi harapan hidup serta income, pada tahun 1990 kesejahteraan mulai diukur dengan Human Development Index (HDI), kesejahteraan tidak hanya di ukur dari aspek ekonomi saja tapi juga aspek kualitas social individu.

Ketika kesejahteraan belum terwujud pada suatu masyarat maka dampaknya adalah kemiskinan, di Indonesia kemiskinan seakan menjadi sebuah ketakutan tersendiri, bagaimana tidak, negara yang secara geografis sangat luas serta memiliki jumlah penduduk terbanyak ketiga ini bisa memberikan kehidupan yang layak bagi seluruh warga negarannya. Seluruh negara yang terdapat di dunia sepakat bahwa masalah kemiskinan menjadi penghambat utama kesejahteraan dan perkembangan peradaban. Kemiskinan bukan hanya berurusan dengan ekonomi saja, melainkan juga bersifat multidimensional karena dalam kenyataannya juga berurusan dengan masalah sosial, dan budaya. Imam Santoso mengatakan bahwa kemiskinan memiliki fungsi sosial, pernyataan tersebut secara tidak lansung menimbulkan perspektif baru serta menjustifikasi kebenaran bahwa kemiskinan itu adalah hal yang sah sah saja. Alasan klasik dibalik pernyataan tersebut adalah sebagai kontribusi dalam menentukan strata sosial di tenggah masyarakat sebagai alat ukur atau pembanding antara si kaya dan si miskin


Detail: 
Judul Buku: Bantuan Tunai Bersyarat dan Kesejahteraan Masyarakat Perspektif Ekonomi Islam
Penulis: Widia Oktapiani
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: 300
ISBN: 978-623-xxxx-xx-x



Pemikiran dan Kontribusi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tentang Perempuan dalam Islam

Pemikiran dan Kontribusi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tentang Perempuan dalam Islam


Persoalan perempuan telah menjadi persoalan dunia karena memang ditemui permasalahan yang tragis, bahwa selama berabad-abad perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki (dominasi patriarkat). Sejarah mencatat beberapa peristiwa yang menunjukkan ketidakadilan, ketimpangan, dan kesewenang-wenangan laki-laki terhadap perempuan. Sebagai contoh kasus, diantaranya adalah hak kepemilikan istri yang tidak ada bedanya dengan membeli budak perempuan. Fenomena ini menjadi lazim di kalangan orang Yunani, Roma, Jerman, India, Cina, dan Arab. Diungkapkan oleh para wisatawan kontemporer bahwa pada zaman dahulu, seorang laki-laki membeli perempuan pada ayahnya untuk dijadikan istri. Secara otomatis laki-laki yang menjadi suami perempuan tersebut sudah memiliki hak atas dirinya, dan dia berhak menjualnya lagi ke laki-laki lain. Ketika suami meninggal, maka perempuan dimiliki oleh ahli waris suami, yaitu anak laki-lakinya, sebagai bagian dari kepemilikannya. Perempuan dalam fenomena ini tidak memiliki atau mewarisi apa pun.  Dalam kehidupan sehari-hari terlihat jelas mayoritas peran di sektor pemerintahan dan politik didominasi oleh laki-laki. Sedangkan perempuan hanya identik mendapatkan peran di sektor publik yang domestik.

Tentu contoh kasus di atas hanyalah sebagian kecil dari fakta tirani laki- laki terhadap perempuan. Masih sangat banyak fenomena yang lebih tragis yang sudah terekam dalam sejarah. Beberapa kondisi yang tidak menguntungkan bagi kaum perempuan tersebut, kini mulai disadari oleh perempuan itu sendiri, sehingga mulai bangkit dan memperjuangkan haknya serta keadilan yang selama ini diabaikan. Seiring munculnya kesadaran tersebut lahirlah tokoh-tokoh feminis perempuan dari berbagai negara. Hal kedua yang patut disyukuri, hadirnya beberapa sosok cendekiawan laki-laki yang peka terhadap realitas. Sehingga lahir pula tokoh-tokoh feminis laki-laki dari berbagai negara.

Sebagaimana istilah Simone De Beauvoir bahwa perempuan dianggap sebagai “jenis kelamin kedua”. Dalam penggambarannya tentang perempuan Simone De Beauvoir sebenarnya mengutarakan persamaan dan kesetaraan sebagaimana istilahnya “perempuan tidak dilahirkan, mereka dibuat”, sama dengan apa yang terjadi pada laki-laki”. Semakin gencarnya para feminis menuangkan pemikiran feminismenya dalam beberapa tulisan, maka semakin beragam pula definisi feminisme tersebut. Sepanjang yang terjangkau oleh penulis dalam menelusuri tokoh-tokoh feminis, ditemukan tendensi subjektivitas mereka, yang pada awalnya seolah hanya menginginkan kesetaraan, tetapi lambat laun mengarah pada keseragaman.

Detail: 
Judul Buku: Pemikiran dan Kontribusi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tentang Perempuan dalam Islam
Penulis: Mir’atul Izzatillah
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: 144
ISBN: 978-623-5448-07-7


Friday, September 16, 2022

Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam

Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam



Dalam sejarah peradaban dunia, perempuan kerap kali termarjinalkan. Peradaban besar seperti Yunani misalnya, meskipun dikenal sebagai peradaban yang tinggi dengan melahirkan berbagai pemikir-pemikir terkenal namun tetap memosisikan perempuan sebagai kelas kedua dengan posisi yang menyedihkan. Pada zaman Yunani kuno, perempuan memiliki hak yang sangat terbatas, mereka tidak berhak menjabat ke pemerintahan lokal, tidak berhak mendapat harta pusaka, tidak berhak menggunakan hartanya sendiri bahkan bisa diperjualbelikan di pasarpasar. Lebih lanjut lagi, sebagaimana diutarakan Asmanidar, perempuan pada masa itu kerap kali dijadikan sebagai objek pemerkosaan dan hiburan. Peran perempuan pada masa itu hanya sebagai pelacur pemuas nafsu belaka, selir pelayan tuan untuk memperoleh keturunan dan istri yang harus patuh dan tunduk kepada suami dengan hak yang sangat terbatas.

Pada masa Romawi, penghargaan terhadap perempuan tidak jauh berbeda. Perempuan masih menjadi subordinasi laki-laki. Ketika seorang perempuan menikah, maka kekuasaan penuh dirinya ada di tangan suami. Layaknya sebuah perabot atau budak, tugasnya hanyalah menyenangkan dan menguntungkan tuannya. Ketika istri berbuat salah, maka suami berhak untuk menghukumnya bahkan hingga memvonis mati. Pada masa tersebut, perempuan tidak berhak untuk menerima surat kuasa, menjadi saksi, penjamin orang lain, dan wali. Apabila suami meninggal, istri dapat diwariskan kepada anak-anaknya.

Hal yang sama terjadi pada bangsa Arab pra Islam yang disebut dengan masa jahiliyah. Pada masa ini perempuan terbelakang, menjadi tempat pelampiasan hasrat laki-laki serta dipandang sebelah mata. Pada masa ini, suami bebas mentalak istrinya tanpa adanya batasan, bebas berpoligami tanpa batas serta perempuan tidak memiliki hak untuk memilih calon suaminya.

Kelahiran perempuan pada masa jahiliyah juga dipandang sebagai suatu kesialan. Terdapat praktik penguburan hidup-hidup anak perempuan karena khawatir akan menjadi aib jika kelak menjadi dewasa. Kalaupun hidup, perempuan pada masa itu tidak begitu diakui haknya. Sebagai contohnya, perempuan tidak berhak untuk menerima warisan. Bahkan, perempuan justru menjadi harta pusaka waris. Hal ini terjadi apabila seorang istri muda meninggal, maka dapat diwariskan kepada anak laki-laki istri pertama.

Detail: 
Judul Buku: Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam
Penulis: Shubhan Shodiq
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: x+228 hlm
ISBN: 978-623-xxxx-xx-x


Thursday, September 15, 2022

Kepemimpinan Klan Kiai dalam Pendidikan Pesantren Modern

Kepemimpinan Klan Kiai dalam Pendidikan Pesantren Modern


Pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Salah satu lembaga pendidikan yang ada di Indonesia adalah Pondok Pesantren. Dalam sejarah pendidikan Indonesia, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia dan dianggap sebagai produk asli putra Indonesia. lembaga ini sudah mengakar dan bersemayam jauh dan kuat dalam jiwa masyarakat Muslim Indonesia. Selain menjadi history masa lalu, pesantren  telah pula  menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menyimpan dan mendeskripsikan seluruh rangkaian sejarah atas perjuangan dan peran pemimpin nasional dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pondok Pesantren lahir, tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat. Karena kekuatan historigrafinya itu, maka tidak mengherankan kalau pesantren selalu menjadi pilihan utama bagi kalangan Muslim Indonesia untuk pendidikan anak-anaknya. Mereka  memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan pesantren rupanya sudah lama terjadi. Bahkan hal tersebut bisa dikatakan sudah menjadi sebuah budaya yang selalu dilestarikan dari generasi ke generasi. Salah satu alasan utama mereka memilih pesantren untuk pendidikan anak-anak mereka adalah karena di lembaga ini sudah pasti akan terbentuk kepribadian akhlak bagi anak-anaknya. 

Salah satu unsur penting dalam pesantren adalah seorang Kiai. Maju mundurnya sebuah pesantren tergantung bagaimana kepemimpinan seorang kiai. Dalam hal kepemimpinan seorang kiai pasti menyadari bahwa mereka tidak selamanya bisa memimpin pesantren. Karena itu, untuk menjaga kevakuman dan keberlangsungan pesantrennya dikemudian hari, seorang kiai akan menyiapkan penggantinya. Lingkaran utama kepemimpinan yang disiapkan oleh Kiai adalah sudah pasti dari lingkaran keluarganya (klan). 

Detail: 
Judul Buku:Kepemimpinan Klan Kiai dalam Pendidikan Pesantren Modern
Penulis: Khasanuri
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: 218
ISBN: 978-623-5448-04-6


Etika Perang dalam Al-Qur’an: Studi Kasus Ayat-ayat tentang Ash’hur al-Ḥurum

Etika Perang dalam Al-Qur’an: Studi Kasus Ayat-ayat tentang Ash’hur al-Ḥurum Membicarakan tentang etika, tentu tak terlepas dari sejarah kem...