Monday, January 16, 2023

Konsep Pendidikan Pluralisme dalam Al-Quran


Isu keberagamaan atau pluralisme dalam agama merupakan isu yang cukup menarik untuk ditelaah. Karena fenomena pluralisme agama kehidupan masyarakat modern. Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan yang hanya bergaul dengan orang se-aqidah atau satu suku saja maka tidak akan merasakan hal itu, bahkan dianggap sebagai hal yang aneh karena belum terbiasa, hal itu disebabkan karena belum memiliki pengalaman dalam hidup berdampingan secara damai, tentu akan menimbulkan problematika tersendiri, namun bagi masyarakat metropolitan seperti Jakarta tidak akan menimbulkan sesuatu yang berarti. Fenomena tersebut memaksa para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk menemukan suatu solusi dalam merespon problematika tersebut dengan istilah teologi global (Global Theology) dan kesatuan transenden agama-agama. (Transcendent Unity of Religions). Jika diteliti dengan seksama, target akhir dari kedua teori ini adalah upaya melegitimasi kebenaran semua agama.

Di samping itu, yang paling meresahkan adalah upaya untuk tidak lagi mengklaim kebenaran absolut (absolute truth claims) antar agama yang saling berseberangan.Sehingga, dampak sosial dari doktrin pluralisme agama cukup berbahaya terhadap ajaran-ajaran agama yang telah berlangsung dengan baik.

Seperti diketahui, bahwa masalah utama yang dihadapi oleh para pendidik dan penggerak sosial-keagamaan pada era kemajuan plural-multikultural, adalah bagaimana masing-masing tradisi keagamaan tetap dapat mengawetkan, memelihara, melanggengkan, mengalih-generasikan, serta mewariskan kepercayaan dan tradisi yang diyakini sebagai suatu kebenaran mutlak, namun di saat yang sama, menyadari sepenuhnya keberadaan kelompok tradisi keagamaan lain yang berbuat serupa. Maka, diperlukan sebuah konsep baru dari pendidikan agama yang dapat merangkul, menjaga kebersamaan, menciptakan kohesi sosial yang baik, dan keutuhan bersama, serta mampu mengintegrasikan antara agama dan budaya khususnya di Indonesia yang selanjutnya membentuk sebuah budaya hemispheric.

Detail
Judul Buku: Konsep Pendidikan Pluralisme dalam Al-Quran
Penulis: Masruhin
Editor: -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2023
Halaman: xxviii + 334
ISBN: 978-623-xxxx-xx-x


Pemahaman Hadis Keutamaan Alī Ibn Abī Ṭālib dalam Pandangan Syiah


Hadis dalam pandangan umat Islam menempati posisi kedua sebagai sumber dalil pokok setelah al-Qur’an. Selain sebagai penjelas dan penafsir al-Qur’an, urgensinya menjadi semakin nyata karena ia juga berfungsi sebagai pembuat hukum yang independen layaknya al-Qur’an itu sendiri. Hal ini karena pembawa hadis yakni Rasulullah saw diberi wewenang langsung oleh Allah swt untuk menjelaskan dan menafsirkan kehendak Allah melalui wahyu yang diterimanya. dari malaikat Jibril as. Berdasarkan hal ini, umat Islam tidak hanya mengambil hadis sebagai dalil dan sumber dalam pembentukan tasyrī’, namun juga menjadikannya sebagai satu hal yang tak dapat dipisahkan dalam kepentingan istidlāl dan meyakininya sebagai naṣ yang otoritatif dan kanonik.

Kedudukan hadis yang dinilai sangat penting bagi seluruh kaum muslimin tidak terlepas dari banyaknya perbedaan dalam mengambil, menerima, menginterpretasi dan menangkap makna hadis itu sendiri. Hal ini terjadi karena berbedanya daya tangkap, cara pandang dalam menyikapi teks, rentan waktu, tempat, situasi dan kondisi yang dialami oleh masing-masing pembaca.

Perbedaan tersebut menyebabkan beberapa kelompok, hab maupun firqah yang ada dalam Islam hanya menerima periwayatan hadis yang datang dari anggota kelompok mereka saja dan memilih untuk menolak periwatan dari selain dari mereka. Misalnya kelompok Sunni yang hanya berpegang pada periwayatan yang sesuai dengan aturan main dan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama hadis Sunni, sedangkan golongan Syi’ah hanya menerima hadis periwayatan dari golongan mereka saja. Hal ini salah satunya disebabkan karena Usulul Hadis Syiah berbeda secara signifikan dengan Uṣulul Hadis Sunni sebab Syiah menolak periwayatan hadis kecuali yang berasal dari para aimmah dari kalangan mereka.

Detail:
Judul Buku: Pemahaman Hadis Keutamaan Alī Ibn Abī Ṭālib dalam Pandangan Syiah
Penulis: Jauharatu Nabilah
Editor: -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2023
Halaman: x + 170 hlm 




Tuesday, December 6, 2022

Field Studies, Field Report, Publikasi Ilmiah (Dinamika Kajian Ekologi Empiris dan Kontemporer)


Buku ini, diharapkan dapat menjembati atau memfasilitasi bagi pemula dalam bidang penulisan ilmiah. Subtansi bahasan dalam buku ini, sesuai bahkan tepat dijadikan rujukan untuk memulai dan mengembangkan laporan akhir (skripsi bahkan tesis) atau studi lapang yang layak publish. Di samping itu, sebagai luaran yang diharapkan bisa memotivasi semua pihak, terutama dalam kegiatan ilmiah (field studies or research to field report), agar menghasilkan produk, baik berupa buku maupun jurnal ilmiah skala nasional – internasional, maupun dalam bentuk teknologi tepat guna. 

Adapun teknik maupun tahapan penulisannya, sudah banyak diuraikan dengan runut dan sistematis, disertai contoh-contoh hasil penulisannya. Demikian, diharapkan buku ditangan pembaca ini, dapat membantu dan bermanfaat, terutama bagi pemula yang terus berupaya menemukan dan mengembangkan sebuah tulisan ilmiah, yang dinamis dan berkualitas.

Detail:
Judul Buku: Field Studies, Field Report, Publikasi Ilmiah (Dinamika Kajian Ekologi Empiris dan Kontemporer)
Penulis: Kristiyanto
Editor: -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: x + 130 hlm 
ISBN: 978-623-5448-29-9


 


Wednesday, November 16, 2022

Dimensi Toleransi: Studi Penafsiran Ibnu ‘Ajibah


Salah satu penafsir bercorak sufistik yang seringkali menjadi objek kajian penelitian adalah Ibnu ‘Ajibah dengan karyanya al-Bahr al-Madid fi Tafsir alQur’an. Tentu saja selain Ibnu ‘Ajibah, terdapat beberapa penafsir Al-Qur’an seperti al-Qusyairi an-Naisaburi asSyafi’i, Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdady, Syihabuddin Muhammad as-Sayyid al-Alusi al-Baghdadiy, Abu al-Fadl Rashid al-Din al-Maybudi, Ruzbihan al Baqli, dan berbagai macam lainnya. Ciri penafsiran sufistik adalah selalu menampilkan sisi yang berorientasi pada eksoterik dan esoterik. Tidak hanya berhenti pada makna secara zahir namun juga batin. Ini dilakukan agar dapat menghindari kerancuan dalam menafsirkan kandungan al-Qur’an, serta diperlukan upaya memahami dan menemukan esensi makna al-Qur’an secara menyeluruh. Karena al-Qur’an memiliki kerangka kesatuan yang utuh, maka memahaminya tidak bisa setengah-setengah. Bila tafsir al-Qur’an berorientasi hanya pada makna zahir hal ini hanyalah bagian akidah secara luar (zahir), demikian merujuk pada aspek bacaan atau pelafalan al-Qur’an, sementara batin lebih pada aspek pemahaman secara mendalam.

Karena itulah dikatakan, penafsiran sufistik dapat dijadikan rujukan dalam memahami al-Qur’an secara mendalam. Dipilihnya Ibnu ‘Ajibah sebagai objek kajian ini didasarkan pada aspek doktrinal sufistik di samping memberi penjelasan secara literalis. Juga, menguraikan keterangan pada tatanan tasawuf amali, yang dalam hal ini mencakup dimensi toleransi yang perlu untuk dikaji secara sistematis dan mendalam. Hal ini lantaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberagaman adalah hal yang mutlak eksistensinya. Kehadiran toleransi merupakan suatu wadah untuk saling terbuka satu sama lain, bahkan memberikan ruang perdamaian antara Suku, Agama, dan Ras yang berbeda. Bahkan kata toleransi diambil dari bahasa latin Tolerantia yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan serta kesabaran. Sehingga toleransi dapat diartikan secara luas yaitu sebuah sikap saling menghormati, saling menerima, saling menghargai ditengah perbedaan. Di sisi lain nilai-nilai Toleransi mengajarkan umat beragama untuk berlapang dada menerima ajaran agama lain dan bersabar atas perbedaan serta didukung oleh cakrawala pemikiran yang luas. Menurut Echlos dan Shadily, toleransi merupakan sikap dari kesabaran dan kelapangan dada.

Toleransi beragama adalah sikap yang mencakup sebuah keyakinan pada manusia yang berkaitan dengan akidah atau ketuhanan yang diyakininya, sehingga seseorang harus diberikan kebebasan dalam memeluk agamanya masing-masing, dan memberikan penghormatan atas kegiataan keagamaan atau ajaran yang dianut serta diyakininya.4 Sehingga konsep toleransi agama merupakan manifestasi dari jalinan sosial antar umat beragama, dalam upaya membangkitkan keberagamaan dalam kehidupan bersosial, bahkan semua agama di dunia memiliki peran dan mengajarkan umatnya dalam menjaga satu sama lain, saling berbagi, cinta dan kasih sayang. Bahkan agama di ciptakan dalam konsep yang berbeda namun mengajarkan kebaikan pada setiap umatnya. Dari defenisi inilah, sehingga salah satu tokoh filosof Perancis yang beraliran mistik yang bernama Fritjhof Schoun, mengartikan agama secara eksoteris, dimana agama dilahirkan berbeda-beda, akan tetapi perbedaan ini diciptakan oleh agama masingmasing. Adapun secara esoterik, bahwa agama-agama yang lahir di dunia ini memiliki tujuan yang sama. Sehingga kedua aspek berbeda ini, Frithof Schoun memberikan jalan bahwa dari perbedaan agama ini, dapat mempertemukan satu sama lain dalam menjalankan keyakinannya sebagai ciptaan Tuhan Yang Esa dimuka Bumi.


Detail: 
Judul Buku: Dimensi Toleransi: Studi Penafsiran Ibnu ‘Ajibah
Penulis: Abdullah
Editor: -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: xiv + 230 hlm 
ISBN: 978-623-5448-30-5


Tuesday, November 15, 2022

4 Perkara Sebelum Manusia Lahir adalah Sebuah Program


Makna dari 4 Perkara yang sudah ditulis oleh Malaikat sebelum kita lahir, saya terapkan dalam menjalani kehidupan, sering membingungkan. Saya merasa ada sesuatu pengertian yang harus dipaksakan untuk dicocokkan dengan pemahaman yang ada. Apabila saya rangkaikan jawaban-jawaban atau pemahaman tersebut, rasanya ada yang tidak pas dalam pikiran saya. Saya umpamakan seperti sedang menata puzzle, ada kepingan yang dipaksakan untuk masuk pada tempat yang masih kosong. Oleh karena bentuk-bentuk puzzle itu mempunyai perbedaan yang sangat kecil. Seolah-olah kepingan puzzle itu cocok, sudah tepat pada tempatnya, tetapi ketika semua kepingan puzzle masuk dan kita lihat secara keseluruhan, rasanya ada yang kurang pas pada tempatnya. 

Apabila kita ingin menempatkan kepingan pada tempat yang benar, maka kita harus membongkar seluruh kepingan puzzle tersebut. Kita harus menata ulang kepingankepingan tersebut, sehingga berada di tempatnya dengan benar, sehingga gambar secara utuh bisa dilihat dengan nyaman atau dalam pikiran kita terasa pas.

Dalam buku ini akan jarang memakai dalil-dalil seperti layaknya sebuah buku yang membahas tentang bab-bab dalam agama Islam. Saya hanya ingin mengemukakan pendapat atau pemikiran saya mengenai suatu hal. Atas dasar pemikiran yang ada, saya mempertanyakan pemikiran saya ini benar atau tidak. Setelah saya coba baca beberapa buku dan dari berbagai sumber mengenai empat perkara tersebut, saya semakin yakin dengan apa yang saya yakini atau saya renungkan.

4 Perkara yang ditulis malaikat sebelum kita lahir adalah sebuah program. 4 Perkara ini tidak hanya ditulis pada manusia tetapi ditulis pada semua makhluk.


Detail: 
Judul Buku: 4 Perkara Sebelum Manusia Lahir adalah Sebuah Program
Penulis: Takdhy Kennal
Editor: Saepullah
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: xviii + 126 hlm.; 14,8 × 21 cm
ISBN: 978-623-5448-28-2



Monday, November 7, 2022

Resolusi Konflik Berbasis Teologi Bakubae: Studi Konflik Ambon, 1999-2002

Resolusi Konflik Berbasis Teologi Bakubae: Studi Konflik Ambon, 1999-2002



Dalam perspektif sosiologi sejarah keagamaan, bentuk keragaman hidup secara normatif merupakan pemberian (given), kepelbagaian (diversity) dan sebuah keniscayaan (neccesery) dalam tatanan hidup individu maupun kolektif di bawah sistem Ilahiah secara praktis dan universal yang terdapat pada ras manusia sebagai makhluk beragama. Hal ini menunjukkan bahwa pluralitas sosial dan nilai-nilai keyakinan dalam bingkai teologis kerukunan dan keberagaman, merupakan esensi dari kemutlakan otoritas ciptaan Tuhan yang menempatkan manusia pada mulanya sebagai satu umat beragam Nabi beda agama, misalnya di dalam Q.S. al-Baqarah [2:] ayat 213. Secara empiris gagasan al-Qur’an ini menunjukkan konteks sejarah genealogi sosial dan para Nabi terdahulu yang diutus sebagai pembawa ajaran tauhid atau menganut satu landasan keyakinan teologi, adalah komunitas pilihan Tuhan yang hidup sejak zaman atau di era Nabi Adam a.s. sampai Nabi Nuh a.s. hingga Nabi Ibrahim a.s., dan Nabi Muhammad Saw.

Landasan historis tersebut mengisyaratkan makna tentang bagaimana pola hidup dan membangun hubungan pluralitas dalam bingkai sruktural kesatuan atau strata sosial yang kokoh. Fenomena ini menurut Fazlur Rahman dalam perdebatan akademi, menyebut dengan teori double movement, yaitu tindakan atau upaya untuk mendorong gerakan kehidupan komunitas muslim dan non muslim yang plural untuk hidup lebih dinamis. Dalam proses ini, Mahmoud Ayub yang mendukung pemikiran tersebut menyatakan terdapat tiga faktor penting sebagai landasan pluralisme agama dari sistem Ilahi dan identitas komunal, yaitu; Pertama, kesatuan umat manusia di bawah satu Tuhan. Kedua, agama langit yang di bawah oleh Nabi ulul azmi. Ketiga, peranan wahyu (kitab suci) yang berfungsi untuk menyerukan dan mendamaikan konflik di antara umat beragama.

Kajian sosiologi tentang satu umat beragam Nabi dalam discours Waardenburg, menyatakan bahwa secara eksplisit setiap komunitas sosial yang hidup di zaman klasik itu sering retak, karena terdapat perbedaan pemikiran tentang pemahaman agama dan perbedaan etnis menjadi sumber perpecahan yang berakibat terjadi konflik sebagai dinamika sejarah dan unsur persinggungan tindakan sosial.11 Maka diperlukan sebuah landasan dialog lintas agama sebagai wujud dari ajaran toleransi, penguatan ketahanan, dan integrasi bangsa.12 Pada bagian lain, Durkheim, penggagas teori struktural sosial dan pakar sosiologi konservatif Prancis, yang pemikiran sosiologinya lebih memperhatikan tatanan sosial (social order), sehingga ia populer sebagai ilmuwan sosial dalam teori fungsionalisme struktural, menyatakan bahwa suatu perspektif ilmu sosiologi yang berat adalah menimbang aspek konsensus dan menjaga harmoni sosial, serta memperhatikan gerakan sosial masyarakat sipil (civil society).13 Durkheim lebih jauh mengakui tentang keyakinan keagamaan merupakan refleksi spiritual yang terdapat dalam aksiomatika dasar struktural fungsional sebagai ciri khas manusia, dalam konteks mencirikan fungsi agama untuk mengintegrasikan sistem-sistem sosial ketika terjadi konflik komunal.

Detail: 
Judul Buku: Resolusi Konflik Berbasis Teologi Bakubae: Studi Konflik Ambon, 1999-2002
Penulis: Burhanuddin Tidore
Editor: -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2021
Halaman: xx+ 323 hlm
ISBN: 978-602-5576-70-6



Catatan:

untuk membaca online klik pada tombol dibawah ini
silakan mengutif dari buku ini dengan menyebutkan sumber

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis



Friday, November 4, 2022

Pengauditan Teori dan Praktek

Pengauditan Teori dan Praktek


Tahap awal dari proses auditing adalah Perencanaan audit , dimana proses tersebut sangat menentukan dalam kesuksesan penugasan audit. Pengauditan selain dituntut berkualitas juga harus dilaksanakan secara ekonomis, efektif dan efisien. Pengauditan adalah sebuah mekanisme yang bertujuan , oleh karena itu Perencanaan audit bukan merupakan satu bagian audit yang terpisah dari bagian audit lainnya, namun lebih merupakan suatu tahapan yang berkesinambungan dan berulang. Menurut Standar pekerjaan lapangan pertama Profesional Akuntan Publik (SPAP) mensyaratkan adanya perencanaan yang memadai yaitu: Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. Menurut Standar Auditing 316 dalam Standar Profesional Akuntan Publik (Ikatan Akuntan Indonesia, 2001) mensyaratkan agar audit dirancang untuk memberikan keyakinan memadai atas pendeteksian salah saji yang material dalam laporan keuangan.

Menurut SA Seksi 326 (PSA No. 07), Paragraf Audit No. 20 menyatakan bahwa Auditor pada hakikatnya harus dirumuskan dalam jangka waktu dan biaya yang wajar. Perencanaan audit mencakup pengembangan rencana menyeluruh untuk merencanakan penerapan audit atau dengan kata lain perencanaan audit adalah membangun strategi audit keseluruhan untuk perikatan dan pengembang an rencana audit.


Detail: 
Judul Buku: Pengauditan Teori dan Praktek
Penulis: Haris Sarwoko
Editor: -
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2022
Halaman: v + 175
ISBN: 978-623-5448-27-5



Konsep Pendidikan Pluralisme dalam Al-Quran

Isu keberagamaan atau pluralisme dalam agama merupakan isu yang cukup menarik untuk ditelaah. Karena fenomena pluralisme agama kehidupan mas...