Showing posts with label Pemikiran Islam. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran Islam. Show all posts

Wednesday, October 2, 2019

Perubahan Sosial Profetik

Perubahan Sosial Profetik:
Analisis Konsep Tahapan Perubahan Sosial Al-Qur'an

Buku ini membuktikan bahwa konsep perubahan sosial profetik nabi Muhammad yang bersifat humanis-teosentris dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan sebagai dampak negatif dari globalisasi. Hal ini dapat tercapai jika pengikutnya bisa bertindak sebagai agent of change dalam mentransformasi sosial yang dilandaskan pada epistemologis al-Qur'an sebagai sebuah paradigma modern.

Kesimpulan besar buku ini berbeda dengan kesimpulan para pengusung pemikiran Freudianisme yang mencita-citakan dunia tanpa tekanan jiwa, termasuk tekanan yang berupa agama, yang disebutnya sebagai ilusi, dan penganut pemikiran Marxisme yang menyebut kesadaran agama sebagai false consciousness, seperti dalam kesimpulan Karl-Heinz Lewed "Curtains for Universalism: Islamism as Fundamentalism in Modern Social Form" (2008) dan Herbert Marcuse "The New Form of Control" (2009) berkesimpulan bahwa untuk mempertahankan semesta ini harus melalui pemenuhan kebutuhan tubuh manusia dan pikiran secara bebas.

Detail:
Penulis: Ahsanul Husna
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2019

Wednesday, July 31, 2019

Kohesi Sosial dalam Ajaran Islam dan Budha

KOHESI SOSIAL DALAM AJARAN ISLAM DAN BUDHA:
Studi Komparatif Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar dan Yayasan Budha Tzu chi Indonesia 

Konflik agama terjadi disebabkan hilangnya sikap toleran terhadap agama yang berbeda, paham agama yang berbeda dan terhadap adat dan budaya masyarakat asli. Konflik antar agama dapat direduksi sebagaimana institusi agama atau institusi yang berlandaskan pada agama, seperti Yayasan Budha Tsu Chi Indonesia dan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, walaupun dengan latar belakang agama berbeda, dapat merefleksikan pemahaman keagamaannya, melalui identitas keagamaan, tanpa harus menafikan identitas agama lain. perbedaan teologi (baca: ajaran agama), ketika diterjemahkan dalam konteks sosial, maka teologi dapat menjadi penghubung dan perekat terhadap agama-agama dalam kehidupan sosial. 

Penulisan buku ini menggunakan pendekatan teologi sosial dan pendekatan strukturasi sebagai analisa sosial, serta menggunakan hermeneutika, sebagai alat interpretasi. Sedangkan metode penelitian menggunakan studi komparatif. Buku ini berpandangan, sebagaimana Nurcholis Madjid dan Zainun Kamal, yang menyatakan setiap agama mengajarkan kepasrahan dan ketundukan terhadap Tuhan, dalam istilah Nurcholis Madjid disebut al-islam dan al-din. Perbedaan-perbedaan dalam paham agama, harus disadari disebabkan oleh perbedaan terhadap pemahaman, maka perbedaan itu harus tetap disandarkan kepada Tuhan, yang mengajarkan rahmatan li al-‘alamin. 


Detail:
Penulis: Saepullah
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2017

Tuesday, July 9, 2019

Menulis Gagasan Mempercepat Keberhasilan

Menulis Gagasan Mempercepat Keberhasilan
(Alih Status IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2002)


Melalui buku ini, Pembaca akan memperoleh sedikitnya 6 hal. Pertama, transformasi IAIN menjadi UIN ditargetkan terwujud dalam waktu 3 semester. Target ini disampaikan sejak Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dilaksanakan tanggal 2-3 September 2000 dan terwujud menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 20 Mei  2002. Banyak kegiatan yang digagas dan dilaksanakan sebelum perubahan tersebut terjadi misalnya sosialisasi pemahaman terhadap persyaratan sebuah universitas, perencanaan program dan anggaran, penulisan naskah akademik, penyusunan proposal pembukaan program studi dan perubahan kelembagaan. Kedua, upaya penguatan kelembagaan dalam rangka mempersiapkan menjadi Universitas misalnya pengadaan buku ajar, penguatan laboratorium, pembenahan kurikulum, seleksi calon mahasiswa, dan penguatan perpustakaan. Ketiga, penguatan Fakultas dan Program Studi. Berbagai kegiatan yang digagas dan dilaksanakan untuk mempersiapkan menjadi Universitas antara lain mencakup penguatan kurikulum, pengembangan Fakultas dan Program Studi, dan pengadaan dosen program studi, serta penulisan karya ilmiah mahasiswa. Keempat, Integrasi keilmuan. Sebelum beralih status menjadi Universitas, telah dilakukan pencanangan kebijakan tentang integrasi ilmu agama dengan ilmu lain. Atas dasar ini maka diktum yang tercantum dalam SK Presiden Nomor 31 Tahun 2002 tanggal 20 Mei 2002 mengenai alih status IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah “dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan serta proses integrasi antara ilmu agama dengan ilmu lain”. Kelima, tertib Administrasi. Tertib administrasi yang menjadi prioritas untuk menyongsong kehadiran UIN adalah dengan memperkuat komputerisasi dan penyajian database secara online. Keenam, sosialisasi kelembagaan. Setelah resmi menjadi UIN terhitung sejak 20 Mei 2002 upaya yang dilakukan selanjutnya adalah penyesuaian berbagai tatanan universitas, dan sosialisasi termasuk menjadi salah satu anggota SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) Perguruan Tinggi Negeri yang anggotanya adalah semua Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. 

Adapun pelajaran paling berharga dalam pengalaman mempersiapkan transformasi IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini adalah ditemukannya kata-kata hikmah “Menulis Gagasan Mempercepat Keberhasilan”.

Detail:
Penulis: Suwito
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2019
Halaman: vi+396 hlm



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Tuesday, March 6, 2018

Pendidikan Akal Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan Akal Perspektif Al-Qur’an (Study Pemikiran Harun Nasution)

Menurut Harun Nasution, pendidikan akal termaktub dalam al-Qur’an baik secara tersirat maupun secara tersurat. Untuk itu, pendidikan akal perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam prakteknya, pendidikan akal yang dilakukan oleh Harun Nasution dalam dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi Islam adalah dengan cara memasukkannya ke dalam kurikulum IAIN pada mata kuliah Ilmu Kalam, Mantiq dan Filsafat Islam. Dalam pratek pengajarannya, beliau lebih suka pada mahasiswa yang mau berpendapat meskipun pendapatnya salah ketimbang mahasiswa yang diam saja. Tujuan diajarkannya filsafat di IAIN/STAIN di seluruh Indonesia menurut Harun Nasution adalah untuk menghidupkan kembali semangat intelektualisme Islam yang telah padam dan liberalisme pemikirannya tetap menggelinding serta mampu memberikan pengaruh besar terhadap jalan pikiran generasi selanjutnya guna melahirkan sosok pemb  aru seperti Harun Nasution.

Harun Nasution adalah sosok pembaruan yang sangat membekas di kalangan perguruan tinggi terutama di IAIN/STAIN/UIN di seluruh Indonesia, karena menggerakkan bagian-bagian ajaran Islam yang kurang diungkapkan  secara terbuka sebelumnya di Indonesia atau yang memang tidak dibicarakan sama sekali. Hal ini dapat dipahami bahwa Harun Nasution berbeda dengan pembaru-pembaru Indonesia sebelumnya atau yang sezaman dengannya. Harun Nasution lebih terbuka dalam pengungkapan fakta secara lebih obyektif baik yang positif maupun yang negatif dari perkembangan Islam dalam sejarah. Beliau tidak memaksakan jalannya pada orang lain atau pada mahasiswanya dan Harun Nasution membiarkan orang lain tiba pada pilihannya sendiri dan hanya mengharapkan iman seseorang semakin bertambah setelah mengikuti kuliah dengan beliau, mendengar ceramah beliau atau membaca buku-buku beliau. Untuk mengetahui pendapat beliau khususnya tentang pendidikan akal, maka diperlukan penelitian.

Buku ini memiliki persamaan dengan Filosof Yunani seperti Thales, Anaximenes, Anaximandros, Hereklitus, Demokritus, Phytagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles dan  ilmuan Barat Gustav Le Bon, Henry Trece, Anthony Nutting, C. Risller, Alfred  Guillame, Rom Landau yang menggunakan akal untuk  melahirkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara mutlak sehingga Harun Nasution  menganut faham  Teologi Mu’tazila yang memperkenankan penggunaan akal dalam semua aspek.

Sebaliknya, temuan buku ini memiliki perbedaan dengan beberapa Ilmuan Indonesia misalnya M. Rasjidi, yang  menggunakan akal  secara terbatas sebagaimana teologi As’ariyah. Berbeda pula dengan  Ibrahim Hosen yang berpendapat bahwa penggunaan akal atau Ijtihad  tidak berlaku di bidang akidah dan akhlak, melainkan dalam hal hukum taklifi. Demikian pula berbeda secara diamitral dengan Daud Rasyidyang  menegaskan  keterbatasan akal pada hal-hal yang bersifat ghaib seperti alam kubur, hari kebangkitan, perhitungan, ganjaran syurga dan neraka.

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui riset kepustakaan yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai jenis materi yang berkaitan dengan pokok bahasan yang sedang dikaji. Dalam penelitian ini, ada tiga metode yang digunakan yaitu metode deskriptif, metode komparasi dan metode analisis. Pada tahap awal, digunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan obyek tanpa maksud mengambil keputusan yang berlaku umum. Pada tahap kedua, digunakan metode komparasi guna membandingkan informasi antara ya ng satu dengan yang lainnya yang ada relvansinya dengan topik kajian untuk menemukan jawaban atas permasalahan tersebut, dan ketiga adalah metode analisis guna memilah dan mempertajam pernyataan-pernyataan yang luas agar kajian-kajian ini dapat memberikan gambaran utuh tentang konsep pendidikan akal perspektif Harun Nasution.

Kesimpulan dari buku ini adalah bahwa akal menurut Harun Nasution yaitu daya berpikir yang terdapat dalam jiwa dan daya manusia sebagaimana yang digambarkan dalam al-Qur’an guna memperoleh pengetahuan dengan cara memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia yaitu Tuhan. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa pendidikan akal menurut Harun Nasution adalah melatih, membimbing dan membina daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia dengan cara melakukan aktivitas dari akal tersebut adalah berupa tafakkur yaitu suatu bentuk penalaran dan mengambil i’tibar yang merupakan isyarat dan motivasi dari al-Qur’an.


Detail
Penulis: Junni
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: xii + 414 hlm
ISBN: 978-602-5576-10-2



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Wednesday, February 28, 2018

Pemberdayaan Masyarakat dalam Perspektif Al-Qur’an

Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep pembangunan yang menekankan aspek-aspek material dan imaterial sebagai perwujudan cita–cita bangsa. Fokus pembangunan material adalah penguatan faktor-faktor ekonomi yang mencakup konsumsi, tabungan, distribusi dan produksi. Sementara fokus pembangunan imaterial mencakup penciptaan kesejahteraan, keamanan, pembangunan karakter bangsa serta faktor-faktor pembangunan sosial lainnya diantaranya adalah pendidikan dan kesehatan.

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) Indonesia mengamanatkan bahwa pembangunan merupakan proses perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian sebagai satu kesatuan tanggungjawab antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. SPPN sebagaimana tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 25/2004 ialah: (1) pendekatan politik, (2) pendekatan teknokratik, (3) pendekatan partisipatif, (4) pendekatan atas bawah atau top down, dan (5) pendekatan bawah atas atau bottom up.

Fenomena pemberdayaan masyarakat sebagai suatu konsep dan model yang digagas pemerintah disasarkan kepada pencapaian kelima pendekatan pembangunan tersebut. Pemberdayaan masyarakat adalah pelibatan masyarakat dengan semua potensi yang dimiliki, termasuk komitmen untuk memecahkan persoalan-persoalan dasar kehidupan bersama. Pemberdayaan juga diartikan sebagai suatu proses transformasi, termasuk di dalamnya transformasi persamaan derajat dalam hubungan kekuasaan antar masyarakat dan kebijakan pembangunan.

Secara geneologis, masifnya program pemberdayaan masyarakat dimulai dengan Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada tahun 1993-1994. Program IDT disasarkan kepada 199 wilayah kecamatan yang diidentifikasi sebagai kantong-kantong kemiskinan di Indonesia dengan tujuan mengentaskan kelompok masyarakat miskin. Pada tahun 1998 diluncurkan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang berkembang menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) pada tahun 2007 hingga saat ini telah menjangkau 70.000 desa dari total 72.944 desa di Indonesia dengan total anggaran sebesar Rp. 70 Triliun.

Kesimpulan buku ini adalah konsep pemberdayaan masyarakat dalam al-Quran dapat dipahami dalam arti: upaya peningkatan potensi yang dimiliki masyarakat dengan pola integrasi sosial yang harmonis antara pemerintah, “uli al-amr” atau para expert dalam bidang masing-masing, aghniya’ (para pemilik modal) serta masyarakat secara evolutif dan kontinu, yang dilandasi kesadaran emosional dan spiritual manusia sebagai makhluk teomorfis. Ini karena pemberdayaan masyarakat dalam al-Quran dideskripsikan dengan integrasi antar masyarakat yang bekerja secara kooperatif, responsibel, profesional dan evolutif dengan tujuan ibadah kepada Tuhan.

Detail:
Penulis: Tarmizi A. Karim
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: xii + 344 hlm




Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Wednesday, January 17, 2018

Religiusitas dan Adversity Quotient

Dalam kehidupan, manusia dipastikan akan mengalami pelbagai kesulitan, ujian dan cobaan dalam hidup. Untuk mengatasi pelbagai kesulitan, manusia harus memiliki ketangguhan untuk mengatasinya. Karena, manusia tidak akan terlepas dari ujian hidup, baik itu ujian yang menyangkut keluarga, lingkungan kerja, ekonomi dan lain sebagainya. Sejatinya ujian adalah sunnatullah, dalam arti setiap manusia pasti akan menghadapi ujian selama hidup di dunia dan Tuhan telah memberikan jalan kebebasan pada manusia untuk menghadapi ujian tersebut berupa jalan keimanan maupun jalan kekufuran.

Kebebasan memilih jalan akan membawa konsekuensi pada tanggung jawab atas apa yang dipilih oleh manusia, karena pada dasarnya manusia telah dianugerahi oleh Tuhan berupa desain kejiwaan yang sempurna. Kompleknya permasalahan cenderung membuat manusia merasa frustasi. Kesulitan yang silih berganti menerpa dalam kehidupan, membawa konsekuensi pada struktur pribadi manusia, dalam arti sanggup atau tidaknya seseorang menanggulangi kesulitan, ujian dan cobaan. Manusia mampu menghadapi ujian karena Tuhan telah menganugerahkan beragam macam potensi, dengan anugerah tersebut idealnya manusia mampu untuk menghadapi ujian dengan baik. Karena ujian tidak hanya menghampiri pada hal-hal yang bersifat tidak menyenangkan, namun juga sebaliknya. Sebagai contoh adalah Qarun, pada saat miskin justru baik namun ketika berada di puncak keberhasilan dan kesuksesan malah gagal dan jatuh pada kekafiran. Dengan demikian, betapapun banyak permasalahan yang ada pasti dapat dilalui dengan baik sepanjang manusia memiliki jiwa yang kuat, akal sehat dan perasaan tawakal kepada Tuhan.

Betapapun besar cobaan ataupun kesulitan yang dihadapi pada dasarnya sedikit jika dibandingkan dengan potensi yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Idealnya, manusia bersyukur atas segala potensi tersebut dan dituntut untuk berjuang dan bersabar dalam mengatasi segala macam kesulitan, cobaan dan ujian. Seperti ujian berupa ketakutan, kegagalan, kekurangan harta dan jiwa, karena Tuhan akan memberikan petunjuk untuk mengatasi kesulitan serta petunjuk jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini senada dengan Musawi, bahwa untuk menyingkirkan segala halangan, permasalahan dan kesulitan haruslah memupuk kesabaran serta menarik inspirasi dari sistem proses penciptaan.

Detail
Penulis: Eko Oktapiya Hadinata
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2015
Halaman: xiv + 220 hlm
ISBN: 978-602-7775-34-3


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Tuesday, January 9, 2018

Revitalisasi Pendidikan Karakter Keislaman dengan Whole School Development Approach

Pendidikan karakter  keislaman SMP An-Nisaa’  yang dikenal dengan sepuluh adab An-Nisaa’; yaitu: Damai, Syukur, Peduli, Jujur, Amanah, Disiplin, Kebersamaan, Rendah hati, Sabar, Ikhlas dapat terwujud dengan program regular siswa harian (iqrar pagi, sholat berjamaah, sholat dhuha, Tilawah/tahfiz), program regular siswa mingguan (upacara, senam, shalat jum’at, keputrian, pamong. Level sessi ), penambahan dan pengurangan nilai dengan  (lembar evaluasi sholat wajib dan lembar evaluasi shalat sunnah dan tilawah/tahfidz). Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor (1) Revitalisasi pendidikan karakter keislaman di SMP An-Nisaa’ Pondok Aren didasarkan pada pengembangan visi dan misi  yang  jelas dan luhur. (2) Pola pengembangan  pendidikan karakter keislaman di SMP Annisaa Pondok Aren menggunakan pendekatan whole school development approach (WSDA), yaitu pendekatan yang mengintegrasikan pengembangan Pendidikan karakter keislaman ke dalam seluruh aspek kehidupan sekolah.(3) Pendidikan karakter keislaman diintegrasikan dalam semua pembelajaran sehingga menumbuhkan tanggung jawab semua pendidik untuk mengembangkan karakter subjek didik. (4) Metode yang digunakan bersifat komprehensif, yaitu perpaduan dua metode tradisional  (inkulkasi  nilai dan keteladanan), dan dua metode kontemporer (fasilitasi nilai dan pengembangan soft skills) sehingga dapat mengatasi masalah  secara lebih tuntas. (5) Program pendidikan bersifat kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sehingga intensitas pendidikan karakter keislaman  cukup tinggi. (6) Proses pendidikan melibatkan partisipasi orang tua (dibentuk Class Parent), guna membangun kerja sinergis antara lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. (7) Pendidikan  karakter disertai pengembangan kultur lembaga pendidikan sehingga terjadi pembentukan habit berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral. 

Detail
Penulis: Saiful Umam
Bahasa: Indonesia
Tanggal Terbit: Januari 2013
Halaman: vii + 182 hlm.
ISBN: 978-602-7775-12-1



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Wednesday, January 3, 2018

Pengembang Islam dan Budaya Moderat

Pengembang Islam dan Budaya Moderat
Pak Harun merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan UIN Syarif Hidayatllah, Jakarta. Betapa tidak, beliau adalah guru besar yang sekaligus menjabat Rektor untuk waktu yang sangat panjang sejak 1973 sampai 1984, dan banyak melakukan reformasi akademik, tidak hanya kurikulum dan pembelajaran, tetapi juga melakukan perubahan paradigma kajian keagamaan normatif menjadi empirik, dan kajian tariqah ahlu al hadis menjadi tariqah ahlu al-Ra’yi bahkan tariqah al jam’an (aliran konvergensi yang mencoba memadukan antara dua aliran ahlu al-hadis dan ahlu alra’yi), dengan pendekatan komprehensif mengkaji seluruh aliran dan pemikiran, dianalisis dan disimpulkan. Dengan demikian, para mahasiswa memiliki kesempatan yang sangat besar untuk melakukan kritik terhadap berbagai pemikiran dan implementasi keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, sehingga mereka terhantarkan untuk menjadi orang-orang terbuka dengan perbedaan, dan mampu beradaptasi dalam keragaman, dengan tetap memiliki satu keyakinan akan kebenaran yang dianut mereka.

Sosok Pak Harun sangat fenomenal,dan gerakan reformasi akademiknya sangat dirasakan oleh para mahasiswanya, sehingga kemudian, para penerus beliau menyebut kampus UIN Jakarta sebagai kampus pembaharuan, yang semua mahasiswanya harus berpandangan terbuka untuk melakukan pembaharuan, tidak saja dalam pemikiran dan sikap keberagamaan, tapi juga dalam sikap sosial dan professional mereka. Sikap reformis akhirnya menjadi identitas untuk semua alumni UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, sehingga mereka bisa diterima dalam berbagai profesi, baik inline dengan keahlian program studinya maupun tidak. Ciri keberagamaan yang inklusif tersebut, telah mampu menghantarkan para alumni untuk bisa diterima dalam berbagai kelompok sosial, etnik dan agama yang berbeda, serta mampu beradaptasi dengan siapapun di dunia. Disadari atau tidak, itu merupakan salah satu jasa besar dari Pak Harun yang mengubah paradigma kajian keilmuan keagamaan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Detail:
Penulis: Suwito, Abdul Gani Abdullah, dkk
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2016
Halaman: xxii + 222 hlm
ISBN: 978-602-7775-55-8



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Monday, December 18, 2017

Musibah (al-Bala) dalam al-Quran: Memahami dan Cara Menyikapi

Abdul Rasyid Sabirin
Segala macam ujian (baik dan buruk) mesti disikapi oleh manusia secara proporsional. Dalam hal ini, al-Qur’ân memberi dua konsep sikap yang tepat yaitu bersyukur atas ujian kenikmatan, dan bersabar secara aktif atas semua ujian kesusahan. Sementera itu, ujian yang menimpa individu dapat diatasi secara individu pula, sedangkan ujian yang bersifat kolektif (menimpa kelompok) hanya dapat diatasi oleh seluruh elemen kelompok tersebut secara bersama dalam suatu proyek `amal jama`i (solidaritas kolektif) yang saling membantu dan melengkapi.
Dengan mampu menyikapi al-Balâ secara proporsional, manusia dapat mencapai dua titik hikmah ujian yang menimpanya yaitu, pertama: menjaga keseimbangan dan kesinambungan kehidupan, Kedua: meningkatkan kualitas kehidupan di dunia dengan cara berusaha mengatasi ujian sesuai dengan sikap yang proporsional.

Detail
Penulis: Abdul Rasyid Sabirin
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: Juni 2013
Halaman: xii + 136 hlm.
ISBN: 978-602-7775-22-0



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Wednesday, December 13, 2017

Islam Progesif: Anak Muda NU Membongkar Tradisi

Dinamika yang terjadi di kalangan anak muda NU, sesungguhnya sangat dinamis-progresif. Mereka melakukan pembacaan yang kritis terhadap berbagai permasalahan yang melanda bangsa Indonesia, khususnya umat Islam dan itu bermuara pada pemahaman yang tekstual terhadap teks-teks al-Quran. Dengan latar belakang pendidikan pesantren dan persentuhannya dengan pendidikan Barat-modern, terjadi transformasi pemikiran di kalangan anak muda NU dalam merespon problem-problem kemanusiaan kontemporer dengan wacana dan pola gerakan melalui Islam (penafsiran) yang progresif, yaitu dengan membebaskan masyarakat Islam Indonesia dari keterkungkungan doktrin yang bersifat teologis (teosentris).
Keberadaan anak muda NU progresif menunjukkan, bahwa telah terjadi perubahan metodologi berpikir dari nalar tradisional-doktrinal-monolitik kepada nalar modern-kritis-pluralistik. Hal ini dipengaruhi oleh konstruksi dan metodologi berpikir yang berkembang di Barat dan intelektual Muslim rasional-kritis-pluralistik saat ini. Implikasi dari konstruksi nalar tersebut melahirkan pemahaman Islam yang toleran, damai dan penghargaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Detail
Penulis: Adnan Mahmud
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: Juni 2013
Halaman: viii + 304 hlm.
ISBN: 978-602-7775-19-0


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Luka yang Tersirat

Kadang persahabatan terasa manis, penuh tawa dan cerita. Tapi nggak jarang juga berubah jadi pahit: salah paham kecil bisa jadi besar, gosip...