Showing posts with label Tafsir al Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Tafsir al Qur'an. Show all posts

Thursday, September 13, 2018

Hadis-Hadis Sunni dalam Kitab Mut’ah al-Nisa’ fi al-Kitab wa al-Sunnah

Hadis dalam perspektif Sunni dan Syi’ah pada dasarnya mengandung arti catatan biografi yang berasal dari figur sentral dan diriwayatkan melalaui jalur periwayatan terpercaya. Sebagaimana dalam tradisi Sunni, hadis dalam tradisi Syi’ah, merupakan asosiasi dari dua sistem konstruktif, yaitu sanad (aspek wurud) dan matan (aspek dilalah). Dalam tradisi ilmiah Sunni dan Syi’ah, sanad dan matan hadis adalah dua aspek penting yang harus diteliti dalam rangka klarifikasi dan verifikasi tentang validitas dan originalitas sebuah hadis.

Untuk melakukan kerja ilmiah tersebut, baik Sunni atau pun Syi’ah masing-masing menggunakan pisau analisis dengan pendekatakan Ilmu Riwayah1 dan Ilmu Dirayah. Kedua ilmu ini masing-masing diakui oleh Sunni dan Syi’ah sebagai sebuah produk asli yang diwariskan oleh ulama-ulama mereka sebelumnya. Terlepas dari perdebatan tentang siapa pertama kali yang mencetuskan ilmu riwayah dan ilmu dirayah, pada umumnya dua kelompok Islam ini menggunakan term-term konseptual ilmu hadis yang sama, termasuk ilmu turunan Ilmu Hadis seperti ‘Ilm Rijal al-Hadis, ‘Ilm Nasikh Mansukh Hadis, Ilm Jarh wa Ta’dil, Ilmu Asbabul Wurud Hadis, dan lain sebagainya. Melihat perkembangan Ilmu Hadis Sunni dan Syi’ah, kitab-kitab ilmu hadis secara implisit ingin menyuarakan pada dunia akademik bahwa teori-teori Ilmu Hadis yang ditawarkan bukan sekedar plagiasi atau rekayasa, tetapi merupakan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para ulama terdahulu.

Detail:
Penulis: Ceceng Mumu Muhajirin
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2018
Halaman: xviii + 190 hlm
ISBN: 978-602-5576-15-7



Catatan:


silakan mengutif dari buku ini dengan menyebutkan sumber
semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini




Tuesday, February 6, 2018

Ayat-ayat Pedang Perspektif Tafsir Esoterik

Ayat-ayat pedang (ȃyȃt al-Saif, the Sword Verses) dalam al-Qur‟an sering digunakan sebagai sebuah landasan ideologis untuk melakukan tindak radikalisme.  Tindakan seperti ini tidak saja menimbulkan ketegangan antar pemeluk agama namun juga menimbulkan konflik intra agama. Memang tindak radikalisme bukan sebuah barang baru dalam kehidupan agama apa pun di muka bumi. Pemahaman terhadap teks keagamaan (al-Qur‟an dan al-Hadis) tidak bisa dipungkiri berkontribusi  besar bagi munculnya disintegrasi sosial (tindak radikalisme merupakan salah satu contohnya) di tengah masyarakat, lebih-lebih dalam masyarakat yang heterogen dan multikultural. Sejarah mencatat, konflik dan ketegangan di masyarakat sering kali muncul karena adanya pembacaan yang parsial serta hanya menggunakan pendekatan tekstual saja ketika memahami teks-teks alQur‟an dan al-Hadis.

Sebagaimana yang diingatkan oleh Imam Ali, al Qur‟an merupakan kitab yang “bisu” sehingga memerlukan seorang pembaca yang akan membuatnya berbicara. Peranan sang pembaca akan sangat
menentukan kemana arah petunjuk al-Qur‟an akan berjalan. Ketika al-Qur‟an dipamahi secara demokratis dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan maka al Qur‟an akan menjadi kitab yang sangat menjujung tinggi nilai-nilai humanisme dan menjadi kitab yang mendamaikan (rahmatan lil alȃmȋn). 

Namun, sebaliknya mengunakan ideologi radikal sebagai kacamata bantu untuk memahami al-Qur‟an dan al-Sunnah hanya akan melahirkan kekerasan dan intoleransi terhadap kelompok masyarakat yang mempunyai beda pandangan maupun agama. Konflik, kebencian, permusuhan dan perang yang ditimbulkan oleh agama, atau yang disertai oleh faktor agama, terjadi tidak saja antaragama tetapi juga terjadi dengan kelompok masyarakat yang seagama. Bahkan, ada kalanya konflik intraagama dalam kasus-kasus tertentu tidak kalah parahnya dengan konflik antaragama. Secara historis, tercatat berbagai peristiwa memilukan yang terjadi antar kelompok agama Islam sendiri. Kaum khawarij ekstrim misalnya, menjadikan QS al-Maidah (5): 44 sebagai landasan untuk mengkafirkan orang orang Islam lainnya yang ikut dalam peristiwa tahkim (arbitrase). Dengan pembacaan yang radikal terhadap ayat tersebut mereka beranggapan bahwa Ali, Muawiyyah, Amr ibn al-Ash dan Musa al-Asy‟ari merupakan orang-orang kafir yang halal darahnya. Pada akhirnya Ali terbunuh oleh tangan salah seorang dari mereka yang melahirkan konflik berkepanjangan di tengah kaum muslimin.

Detail
Penulis: Farit Afrizal
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2016
Halaman: xiv+ 246 hlm
ISBN: 978-602-7775-52-7


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Luka yang Tersirat

Kadang persahabatan terasa manis, penuh tawa dan cerita. Tapi nggak jarang juga berubah jadi pahit: salah paham kecil bisa jadi besar, gosip...