Sunday, December 10, 2017

Penafsiran Ayat-ayat Pernikahan Beda Agama

Penafsiran Ayat-ayat Pernikahan Beda Agama


Berbagai ragam pendapat para Mufassir terhadap penafsiran ayat-ayat pernikahan beda agama terhadap teks-teks QS. al-Baqarah/2:221,QS.al-Maidah/5:5,QS.al-Mumtahanah/60:10, antara yang menolak maupun yang menerima. Perbedaan pendapat kalangan Mufassir sahabat, zaman klasik (salaf), zaman modern-kontemporer, berkenaan term al-mushrika>t, maupun term ahl al-Kita>b (Yahudi-Nasrani), Maju>si dan S}a>bi'in, menjadi titik perdebatan.
Penafsiran tekstual diunggulkan eksistensinya menurut Para Mufassir, karena dapat memberikan nilai tersendiri. Pendapat yang menolak secara mutlak pernikahan beda agama, dipelopori Abdullah Bin Umar r.a (w.73 H/692 M), yang berpandangan, bahwa, term al-mushrika>t (QS.Al-Baqarah/2:221), adalah umum, mencakup semua jenis kemusyrikan, penyembah berhala (wathaniyah), termasuk ahl al-Kita>b (Yahudi dan Nasrani), Maju>si dan Sa>bi’ah. Alasan Ibn Umar r.a itu, bahwa ayat QS. al-Baqarah/2:221, bukanlah na>sikhah, bukan mansu>khah, dan bukan pula makhus}u>s}ah (pengkhususan), melainkan muhkamah, maka statusnya adalah umum. Makki bin Abi T>}a>lib al-Qaysi (w.437H) membenarkan pendapat itu dalam kitabnya, al-I>>da>h Lina>sikhi al-Qur’an Wa Mansu>khih}i, dan dalam kitab, Nawa>sikh al-Qur’a>n Li Al-Ala>mah Ibn Jauzi. Menurutnya, bahwa ayat al-Baqarah itu, bukan na>sikhah, bukan mansu>khah, dan bukan pula makhs}u>s}ah (pengkhususan), melainkan muhkamah, statusnya umum. Maka makna (al-mushrikat) itu, dipahami adalah wanita penyembah berhala (wathaniyah), dan semua jenis kemusyrikan, termasuk ahl al-Kita>b, Maju>si, Sa>bi’in dan sebagainya.
Diperkuat pendapat itu oleh Abu Ja’far al-Nuha>s dalam kitabnya, Kitab al-Na>sikh Wa al-Mansu>kh dan riwayat Imam al-Bukhari dalam shahih-nya, hadith, ke-5285, menyatakan, bahwa Abdullah bin Umar r.a, ketika ditanya prihal menikahi wanita Yahudi dan Nasrani, Abdullah bin Umar r.a hanya berkata : Allah S.W.T telah melarang menikahi wanita musyrik dengan orang-orang Islam, lalu Ibn Umar r.a berkata : ”Tidak ada kemusyrikan yang lebih besar dari perkataan seseorang, bahwa Tuhanya adalah Isa atau salah seorang dari hamba Allah.

Detail:
Penulis: Hasbullah Diman
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: Maret 2013
Halaman: x + 340 hlm

ISBN: 978-602-7775-14-5



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






No comments:

Post a Comment

Kritik Sosial pada Pergumulan Isu Agama dan Musik di Baghdad dan Brussels

Tujuan buku penelitian ini adalah menganalisis kehadiran kritik sosial beserta pembentukan strukturnya yang didasarkan pada dimensi agama, s...