Pesantren dan Spirit Kebangsaan
Membaca Kepemimpinan Kh. Mahrus Muhith Nahrawi dalam Menanamkan Cinta Tanah Air
Pesantren mungkin tidak selalu hadir dalam gemerlap modernitas. Bangunannya sering tampak sederhana. Suara para santri mengaji terdengar pelan di antara sunyi malam desa-desa Nusantara. Kehidupannya jauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan dan sorotan media sosial. Tetapi justru dari ruang-ruang sederhana itulah nilai-nilai tentang keimanan, kemanusiaan, kesederhanaan, dan cinta tanah air diwariskan secara perlahan dari generasi ke generasi.
Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Kegelisahan karena kami melihat perubahan zaman bergerak sangat cepat. Revolusi digital telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan memaknai kehidupan. Generasi muda hidup di tengah arus informasi tanpa batas, tetapi sering kehilangan kedalaman refleksi dan akar identitasnya sendiri. Nasionalisme perlahan berubah menjadi simbol formal yang kadang kehilangan makna substantif dalam kehidupan sehari-hari. Di saat yang sama, intoleransi, polarisasi sosial, dan krisis karakter semakin terasa dalam ruang kehidupan masyarakat modern. Namun di tengah kegelisahan itu, kami masih menemukan harapan. Harapan itu bernama pesantren.
Dalam tradisi pesantren, kepemimpinan memang tidak selalu lahir dari jabatan formal dan kekuasaan struktural. Kepemimpinan tumbuh dari integritas moral dan keteladanan hidup. Max Weber menyebut bentuk otoritas seperti ini sebagai charismatic authority, yaitu kewibawaan yang lahir dari kualitas personal dan pengakuan sosial masyarakat terhadap integritas seorang pemimpin (Weber, 1978). Dalam diri KH. Mahrus Muhith Nahrawi, kami melihat bagaimana kepemimpinan semacam itu hidup dan bekerja secara nyata di tengah masyarakat.
Buku ini juga ingin menunjukkan bahwa hubungan antara Islam dan nasionalisme Indonesia sesungguhnya memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Pesantren telah menjadi bagian penting dalam perjuangan bangsa sejak masa kolonial hingga mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad tahun 1945 yang dipelopori KH. Hasyim Asy’ari memperlihatkan bahwa menjaga tanah air dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan (Fealy, 1998). Karena itu, pesantren bukan ancaman bagi nasionalisme Indonesia, melainkan salah satu penjaga terpentingnya.
Detail:
Penerbit: Rabita
Judul: Pesantren dan Spirit Kebangsaan: Membaca Kepemimpinan Kh. Mahrus Muhith Nahrawi dalam Menanamkan Cinta Tanah Air
Penulis: Dr. Jasuli, S.Pd.I., S.Sos., M.Pd.I; Dr. H. Fauzan, S.Pd., M.Si; Muh. Rif’al, S.Kep., Ners., M.Pd
Editor : Miftakhul Jannah, S.Pd., M.E
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2026
Halaman: vi + 161 hlm .; ukuran buku 17,5 x 25 cm
ISBN: 978-623-5448-xx-x

