Friday, January 5, 2018

Budaya Toleransi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam upaya menanamkan nilai-nilai toleransi pada peserta didik, proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan diimplementasikan melalui beberapa cara, yaitu: pertama, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Pendekatan ini menitik beratkan pada peserta didik sebagai subjek pendidikan. Dalam hal ini, peserta didik  menghubungkan antara realitas kehidupan yang sesungguhnya dengan materi pembelajaran untuk kemudian secara bersama-sama mencari solusi untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (contextual teaching learning). Selanjutnya, peserta didik berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru sehingga  mampu membangun pengetahuan mereka sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh peserta didik bukan dari informasi yang diberikan oleh guru semata, melainkan dari proses menemukan dan mengkonstruksi sendiri (konstruktivisme) yang dilandasi sikap terbuka dalam memandang perbedaan di sekitarnya (inklusif) untuk bertindak secara demokratis, dan memiliki simpati dan empati terhadap sesamanya (humanis). Pengetahuan yang sudah ada akan terus diperbarui melalui sarana Information and Communication Technology (ICT) yang semakin mudah dan murah. Sehingga peserta didik menjadi kaya dengan ilmu pengetahuan, namun tetap dalam koridor agama.
Kedua, metode pembelajaran berbasis toleransi. Ketepatan penggunaan suatu metode oleh guru akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya, guru PAI di SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan tidak puas hanya dengan menggunakan satu jenis metode pembelajaran saja. Selain selalu  menerapkan metode pembelajaran yang tepat, metode pembelajaran berbasis toleransi memberikan kebebasan kepada siswa untuk aktif terlibat secara intelektual-emosional dalam menganalisis dan merumuskan nilai-nilai baru untuk kemudian diinternalisasikan melalui pembentukkan nilai dan sikap sehingga melahirkan gagasan-gagasan baru.
Ketiga, ekstrakurikuler berbasis toleransi. Kekurangan jam tatap muka di kelas bukan lagi menjadi penghalang bagi guru PAI di SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan. Dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) guru dapat mengembangkan pembelajaran agama dengan membuat jadwal tambahan jam mengajar melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang didesain dan disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa.
Materi ekstrakurikuler keagamaan disusun dan diarahkan oleh guru PAI di SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan dengan memperhatikan minat dan kebutuhan siswa dengan tetap berkomitmen untuk terciptanya keharmonisan di dalam kehidupan lingkungan sekolah.

Detail
Penulis: Abdul Fatah
Bahasa: Indonesia
Tanggal Terbit: September 2012
Halaman: x + 160 hlm
ISBN: 978-602-7775-03-9



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis







No comments:

Post a Comment

Kritik Sosial pada Pergumulan Isu Agama dan Musik di Baghdad dan Brussels

Tujuan buku penelitian ini adalah menganalisis kehadiran kritik sosial beserta pembentukan strukturnya yang didasarkan pada dimensi agama, s...