Friday, December 29, 2017

Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Autis pada Sekolah Inklusif

Setiap siswa yang sedang bersekolah mempunyai potensi mengalami permasalahan dalam belajar, masalah yang mereka alami bervariasi ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari guru dan ada pula yang berat sehingga siswa ini harus mendapatkan perhatian terutama dari guru yang bersangkutan. Siswa berkebutuhan khusus tidak selalu mengalami masalah  dalam belajar, kadangkala mereka dapat belajar seperti siswa-siswa lain pada umumnya, hanya saja mereka membutuhkan perhatian yang lebih khusus dari guru dan mereka butuh pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi mereka agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan harapan guru, orangtua dan sekolahKelainan pada siswa-siswa berkebutuhan khusus ini memiliki tingkatan dari yang paling ringan sampai

yang paling berat, dari yang mengalami kelainan tunggal, ganda, hingga yang kompleks dan biasanya berhubungan dengan emosi, fisik, psikis dan sosial. Mereka tersebar baik di daerah perkotaan, pedesaan bahkan di daerah-daerah terpencil. Tidak memandang suku, etnis maupun bangsa.
Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa siswa berkebutuhan khusus mesti dikasihani dan dianggap sosok yang tidak berdaya sehingga perlu dibantu. Pandangan seperti ini tentu saja sangat tidak benar dan dapat merugikan siswa-siswa berkebutuhan khusus. Setiap siswa mempunyai kekurangan, namun pasti disamping itu mempunyai kelebihan. Oleh karena itu kita selayaknya melihat siswa-siswa berkebutuhan khusus ini  baik dari segi kemampuan mereka maupun ketidakmampuannya. Dengan begitu kita dapat mengembangkan potensi yang tersimpan dalam diri mereka secara optimal


Detail:
Penulis: Putri Nurina
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2015
Halaman: xiv + 138 hlm
ISBN: 978-602-7775-29-9


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Thursday, December 28, 2017

Perbedaan Qira’at dan Pemaknaan

Hubungan perbedaan qira’at Alquran dengan makna ayat, dibagi menjadi dua, yaitu: perbedaan qira’at Alquran yang berpengaruh pada perubahan lafal tapi tidak pada makna ayat dan perbedaan qira’at Alquran yang berpengaruh pada perubahan lafal dan makna ayat sekaligus.

Adanya perbedaan qira’at atau bacaan dalam Alquran disebabkan beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain: perbedaan bacaan tersebut sudah ada sejak awal mula turunnya Alquran, adanya perbedaan bacaan dari nabi, dan faktor terakhir adalah disebabkan adanya lahjah atau dialek yang beraneka ragam di kalangan maasyarakat Islam ketika Alquran diturunkan.

Perbedaan makna ayat yang dihasilkan oleh berbagai perbedaan qira’at mutawatir yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt., berperan sangat penting untuk menjelaskan dan memperluas makna sesama ayat Alquran. Dilihat dari corak penafsiran Alquran, maka penulis lebih berpendapat bahwa penafsiran ayat Alquran dengan qira’at yang berbeda merupakan bagian dari tafsir bi alMa’thur, yaitu penafsiran ayat Alquran dengan ayat lainnya.

Detail:
Penulis: Masna Hikmawati
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2017
Halaman: xiv+ 256 hlm
ISBN: 978-602-7775-94-7


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis







Wednesday, December 27, 2017

Pembelajaran Kritis di Pesantren

Sarwenda
Institusi pendidikan tidak bisa lepas dari kondisi politik suatu negara. Oleh karena itu, peserta didik harus menyadari situasi demikian. Ketika mereka telah menyadari bahwa, betapa banyak hal yang mempengaruhi kualitas hidup mereka termasuk politik, diharapkan mampu menghadapinya setelah mereka lulus dari bangku akademis. Salah satu cara untuk membekali peserta didik untuk mampu menghadapi segala realita kehidupan sosial adalah kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Tidak hanya mampu berpikir dengan baik, tetapi juga memiliki kesadaran untuk merubah kondisi yang tidak menguntungkan bagi hidupnya, dengan mengutip pemikiran Paulo Freire biasa disebut sebagai suatu kesadaran kritis.
Untuk memulai budaya kesadaran kritis berciri khas kultur nusantara pada masyarakat tentu bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Lembaga pendidikan merupakan tempat yang paling krusial untuk memulai budaya ini, dari level terendah (sekolah dasar) sampai perguruan tinggi. Diluar lingkungan pendidikan, keluarga dan masyarakat juga berperan penting dalam membentuk suatu tatanan masyarakat, yang memiliki budaya berpikir dengankritis diperlukan dukungan dari segala pihak. Pesantren Pertanian Darul Fallah Bogor merupakan salah satu contoh dari lembaga pendidikan Islam, yang telah mengintegrasikan sistem pendidikan Pesantren dan umum dengan menambahkan berbagai keterampilan vocational. Dengan proses pembelajaran yang aktif, partisipatif dan humanis, sehingga lulusannya tidak hanya tafaqquh fid-din, melainkan juga terampil dan produktif.

Details
Penulis: Sarwenda
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2014
Halaman: xiv + 127 hlm
ISBN 978-602-7775-28-2


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis







Wednesday, December 20, 2017

Toksisitas Polutan Mercuri terhadap Perubahan Histopatologis Ikan Air Tawar

Toksisitas Polutan Mercuri
Adanya suatu pencemaran pada ekosistem perairan yang akan menimbulkan kerugian pada sumber kehidupan, kondisi kehidupan dan pada proses produksi. Salah satu bahan pencemar (polutan) perairan yang berbahaya adalah logam merkuri. Bahan pencemar  merkuri bersifat toksin kuat terhadap biota air seperti ikan.  Pada penelitian ini dilakukan uji coba kontaminasi logam merkuri terhadap lima jenis ikan yaitu ikan mas, lele, gabus, patin dan nila. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mempelajari pengaruh besarnya penyerapan polutan Hg pada organ insang, hati, ginjal dan otot, pada berbagai waktu paparan setiap hari sampai hari ke sepuluh; (2) mengetahui kerusakan histopatologis pada organ insang, hati dan ginjal ikan gabus, patin, nila, mas dan lele dengan konsentrasi berkisar antara 0,312 sampai 1,247 mg/L. 
Berdasarkan dari hasil pengamatan, polutan merkuri sangat berpengaruh sekali yakni  pada organ insang terjadi penumpukan atau penggumpalan lendir karena enzim yang terdapat pada insang yang disebut dengan karbonik enhidrase tidak bisa berfungsi dengan baik karena unsur Zn yang  terdapat dalam enzim tersebut sudah diganti kedudukannya dengan unsur Hg. Akibatnya akan mengganggu sistem pernapasan pada ikan dan juga pada insang terjadi degredasi lamela yaitu suatu proses peradangan pada insang. Penyerapan merkuri pada organ insang tertinggi terjadi pada ikan patin sebesar 0,0549 mg Hg/g insang, sedangkan yang paling rendah terjadi pada ikan nila, sebesar 0,0054 mg Hg/gr insang. Pada organ ginjal ikan terjadi pendarahan, nekrosis, stroma edematik dan hyperplasia. Penyerapan merkuri pada organ ginjal tertinggi terjadi pada ikan patin sebesar 0,0541 mg Hg/g ginjal, sedangkan yang paling rendah terjadi pada ikan nila, sebesar 0,0015 mg Hg/gr ginjal. Kerusakan pada ginjal terjadi pada ikan nila dan patin masing-masing sebesar 80%, sedangkan pada ikan lele dan gabus masing-masing mencapai 100%, Penyerapan merkuri pada organ hati tertinggi terjadi pada ikan mas sebesar 0,0596 mg Hg/g hati, sedangkan yang paling rendah terjadi pada ikan nila, sebesar 0,0134 mg Hg/gr hati. 
Pada organ hati terjadi struktur selnya hancur dan sel-selnya mengalami perubahan masing-masing sebesar 80% pada hati ikan gabus dan nila, sedangkan pada ikan mas terjadi inti piknotik, stroma edematik dan nekrosis, pada hati ikan lele terjadi degenerasi lemak, nekrosisi, lisis dan hipertrofi dan pada hati ikan patin terjadi stroma edematik dan nekrosis masing-masing mencapai kerusakan sebesar 100%.

Details
Penulis: Lilis Suryani
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2013
Halaman: vi + 17 hlm
ISBN 978-602-7775-25-1


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis





Tuesday, December 19, 2017

Menjadi Guru Profesional

Mardia Hi. Rahman
Posisi  guru  sebagai  faktor  penentu  mutu  pendidikan  merupakan konsekuensi  guru  sebagai  pendidik  dan  pengajar.  Ini  menunjukkan  bahwa dalam  proses  pendidikan  di  sekolah,  guru  bertugas  menuangkan  sejumlah bahan  pelajaran  ke  dalam  dimensi nalar peserta  didik,  membimbing  dan  membina peserta  didik agar menjadi manusia yang  cakap, aktif, kreatif, dan mandiri. Artinya,  jika  guru  dalam  melaksanakan  tugasnya  sebagai  pendidik  dan pengajar  secara baik sebagaimana yang diharapkan, maka akan berpengaruh pada kinerja guru dan peningkatan prestasi  atau hasil belajar siswa. Namun kenyataan yang terjadi, kinerja guru saat ini masih banyak mendapat sorotan dari  berbagai  pihak, sehingga  sebagian  masyarakat  sebagai  pengguna jasa pendidikan meragukan  kinerja  guru. Keraguan masyarakat  terhadap  kinerja guru harus dijawab oleh guru dengan upaya meningkatkan kinerja guru dari berbagai aspek, dan salah satunya adalah kompetensi guru sesuai bidangnya. Guru selalu disalahkan dan dijadikan alasan utama  penyebab  merosotnya mutu  pendidikan oleh masyarakat. Untuk  itu  guru dituntut  lebih meningkatkan  kemampuan dan melakukan  tugas pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Kinerja  guru  dapat  ditingkatkan apabila  guru  sendiri  dapat memahami  tujuan  apa  yang  ingin dicapai dan kapan bisa menetapkan cara pencapaian tujuan tersebut sehingga dapat diakui hasil kerjanya.

Detail
Penulis: Mardia Hi. Rahman
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: Oktober 2013
Halaman: xii + 236 hlm.
ISBN: 978-602-7775-24-4


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Monday, December 18, 2017

Musibah (al-Bala) dalam al-Quran: Memahami dan Cara Menyikapi

Abdul Rasyid Sabirin
Segala macam ujian (baik dan buruk) mesti disikapi oleh manusia secara proporsional. Dalam hal ini, al-Qur’ân memberi dua konsep sikap yang tepat yaitu bersyukur atas ujian kenikmatan, dan bersabar secara aktif atas semua ujian kesusahan. Sementera itu, ujian yang menimpa individu dapat diatasi secara individu pula, sedangkan ujian yang bersifat kolektif (menimpa kelompok) hanya dapat diatasi oleh seluruh elemen kelompok tersebut secara bersama dalam suatu proyek `amal jama`i (solidaritas kolektif) yang saling membantu dan melengkapi.
Dengan mampu menyikapi al-Balâ secara proporsional, manusia dapat mencapai dua titik hikmah ujian yang menimpanya yaitu, pertama: menjaga keseimbangan dan kesinambungan kehidupan, Kedua: meningkatkan kualitas kehidupan di dunia dengan cara berusaha mengatasi ujian sesuai dengan sikap yang proporsional.

Detail
Penulis: Abdul Rasyid Sabirin
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: Juni 2013
Halaman: xii + 136 hlm.
ISBN: 978-602-7775-22-0



Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Thursday, December 14, 2017

Persepsi Siswa terhadap Penerapan Penilaian Ranah Afektif pembelajaran PAI

Penilaian Ranah Afektif Burhanuddin
Fenomena tentang penilaian ranah afektif dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam sering diabaikan. Guru lebih banyak melakukan penilaian kognitif, ketimbang penilaian ranah afektif dan psikomotorik.  Jika ada penilaian afektif hanya bersifat insidentil, sekedar melengkapi penilaian raport yang tidak dilakukan dengan sistimatis.
Pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran keagamaam telah dinilai oleh guru dalam ranah kognitif, kurang menggunakan pada ranah afektif.  Mata pelajaran pendidikan agama Islam seharusnya lebih dipentingkan penilaian ranah afektif, karena materinya lebih banyak mengarah kepada perubahan sikap dan karakteristik afektif. 
Mengenai pelaksanaan pendidikan agama Islam, terutama minimnya alokasi waktu pembelajaran untuk pelajaran agama di sekolah, maka untuk mengatasi hal tersebut dewasa ini telah menjamur lembaga-lembaga pendidikan dengan sistem penilaian ranah kognitif sebagai trade mark (merek dagangnya), namun upaya ini masih belum optimal, karena kenyataannya guru masih banyak yang melakukan penilaian dengan penilaian ranah kognitif. Begitu juga para guru agama Islam dalam upaya untuk mengatasi hal ini pada suatu kegiatan penataran dan lokakarya bagi guru-guru agama SD dan sekolah lanjutan di Universitas Pendidikan Indonesia, mereka dapat mengusulkan supaya penambahan jam pelajaran agama pada kurikulum nasional dan adanya penambahan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler keagamaan yang bersifat formal.

Detail
Penulis: Burhanuddin
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: Mei 2013
Halaman: x + 160 hlm
ISBN: 978-602-7775-21-3


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis




Luka yang Tersirat

Kadang persahabatan terasa manis, penuh tawa dan cerita. Tapi nggak jarang juga berubah jadi pahit: salah paham kecil bisa jadi besar, gosip...