Showing posts with label Bahasa dan Sastra Arab. Show all posts
Showing posts with label Bahasa dan Sastra Arab. Show all posts

Monday, December 23, 2019

Gender dalam Buku Teks Bahasa Arab

Gender dalam Buku Teks Bahasa Arab

Buku teks dalam pembelajaran bahasa Arab memiliki peran penting. Buku teks dapat berfungsi sebagai media untuk mengatasi gap budaya dalam pembelajaran bahasa Arab. Veronika Kalmus (2004) yang menyatakan bahwa buku teks merupakan alat untuk mereproduksi dan mentrasfer nilai-nilai sosial masyarakat. Namun, Ulay Kayapinar (2009) menyatakan bahwa di antara kelemahan buku teks adalah minimnya buku teks dalam merepresantikan kesetaraan gender. Beberapa penelitian seperti Kamel Ali Suleiman Ottom (2014) menyatakan bahwa dalam buku teks bahasa Arab di Yordania masih memuat ketimpangan gender. Begitu juga dengan Mitra Baghdadi dan Ali REzaei (2015) menyatakan bahwa buku teks AFL dan EFL di Iran menggambarkan representasi laki-laki yang lebih banyak dibandingkan dengan representasi perempuan.

Buku ini mengungkapkan representasi gender dalam buku teks al-kitab fi ta'allum al-arabiyah dan al-arabiyah bayna yadaik dengan menggunakan pendekatan analilis wacana kritis (Critical Discourse Analysis) Norman Fairlough terhadap al-kitab fi ta'allum al-arabiyah jilid alif ba, 1,2,3, cetakan ke-2 dan al-Arabiyah Bayna Yadaik jilid 1,2,3,4 cetakan ke-2. penelitian ini mengkaji tiga dimensi teks yaitu mikro (analisis teks), meso (praktik wawancara) dan makro (praktik sosiokultural). Pada tahap mikro dan tata bahasa yang mengidentifikasikan permasalahan gender. pada tahap meso dilakukan analisis praktik wawancara yang terdiri dari produksi dan konsumsi teks. sedangkan tahap makro merupakan analisis sosiokultural yang difokuskan pada aspek sosial budaya.

Hasil penelitian dalam buku ini mengungkapkan bahwa pembelajaran bahasa Arab denagn buku teks al-Kitab fi ta'allum al-arabiyah dapat memberikan pemahaman gender yang lebih egaliter dibandingkan dengan buku teks al-arabiyah bayna yadaik. hal ini berdasarkan fakta bahwa penulisan buku teks tidak terlepas dari sudut pandang dan latar belakaang sosial budaya penulisnya. selain itu, penggunaan buku teks dalam pembelajaran bahasa Arab perlu dipandang secara kritis guna menciptakan pembelajaran dengan berwawasan gender danmeningkatakan kesadarn keadialn gender (gender equality) bagi pengajar dan pelajar.

Detail:
Penulis: Fatwa Arifah
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2019




Catatan:

untuk membaca online klik pada tombol dibawah ini
silakan mengutif dari buku ini dengan menyebutkan sumber

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis



Wednesday, February 28, 2018

Peribahasa Sebagai Nilai Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Bahasa adalah sistem tanda atau lambang abritrer yang digunakan oleh kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Harimurti, 1983: 32). Bahasa juga dikatakan sebagai media komunikasi universal dunia yang dihasilkan dari olah alamiah manusia yang diwujudkan dalam bahasa lisan sebagai sumber utama (Keraf Gorys,1984:1). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai proses saling memahami (al-tafahum) yang asumsi dasarnya diambil dari konsepsi prilaku manusia selaku makhluk sosial yang selalu berkomunikasi dan berinteraksi dalam menggapai tujuan yang disepakati atau diinginkan.  

Di samping itu, bahasa dikatakan sebagai media atau alat transformasi keilmuan dunia yang diterapkan dalam bentuk bahasa tulis, dan lisan. Bahasa tulisan adalah bahasa yang seolah menggambarkan dan melukiskan simbol-simbol abjad yang divisualisasikan melalui ujaran-ujaran yang terkonstruksi dari simbol untuk simbol. Berbeda dengan bahasa lisan, adalah bahasa komunikasi langsung antara pengucap dan pendengar yang menggunakan unsur fonem dan mimik ucap yang dilafalkan dalam bahasa lisan (al-Sa’rân, tth: 55). Ragam tersebut merupakan media utama pemahaman simbol-simbol makna yang dikomunikasikan dan ditransformasikan.

Selain itu, bahasa dikatakan tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi, melainkan sebagai wadah kebudayaan yang merupakan bagian dari kebudayaan. Eksistensi bahasa tidak terpisahkan dari manusia. Keterkaitan manusia dari bahawa adalah hal yang tidak dapat dipisahkan membuka akses dan ciri-ciri sesorang atau kelompok di suatu daerah atau bangsa ( Samsuri, 1984: 4 ). Alhasil, sering diketemukan kesamaan dan perbedaan bahasa ungkap, pemakaian kata atau istilah, dan bisa saja kesamaan tersebut itu berbeda dalam maknanya. Apalagi dikatakan bahwa bahasa adalah ungkapan atau wadah kebudayaan suatu bangsa, khususnya dalam pribahasa yang merupakan ajaran wujud nilai dan moral tertinggi suatu bangsa. Contoh halnya dalam pribahasa Indonesia yang mengandung pesan moral, agar manusia hidup tidak seperti sepah yang sudah tidak dibutuhkan lagi, jika sarinya sudah habis “habis manis sepah dibuang”. Pengertian ini secara umum mengandung beberapa arti, diantaranya; (1) dibuang karena tidak dipakai lagi; (2) disimpan pada saat diperlukan saja, dan dibuang jika tidak diperlukan; dan (3) selagi masih bisa dipergunakan dirawat dengan baik, akan tetapi bila tidak, maka dicampakan. Selain itu, ini merupakan analogi yang biasa terjadi pada diri manusia; jika sepah tersebut pada pengertian pertama, maka bisa jadi manusia adalah sampah yang tidak dibutuhkan karena dianggap tidak bermanfaat. Namun, jika pada pengertian kedua, manusia bisa jadi adalah sampah yang mungkin saja bisa di butuhkan  atau pun tidak, karena keberadaanya antara manfaat dan tidak. Sebab itu, pada pengertian ketiga, adalah manusia sepuh dan pensiun, akan tetapi ia adalah pribadi yang bermanfaat, maka ia akan tersimpan dan terawat dan mungkin selamanya akan dibutuhkan, karena pemikiran dan pengabdianya. Konteks lain dalam bahasa Arab, banyak sekali pesan moral yang dituangkan dalam pribahasa, seperti: “Hari esok akan mendatangimu dengan segala sesuatu yang ada padanya”. Pribahasa ini diartikan bahwa masa depan (yang akan datang) sudah pasti adanya dan akan menghampiri, walaupun tak diundang. Masa depan akan dengan sesuai dengan sesuatu yang ada pada masa itu, baik positif atau negatif. Sebab itu, manusia (seseorang) dituntut memiliki kesiapan dalam berbagai hal, agar tidak menjadi sampah di masa depan. Setidaknya tidak akan kehilangan mimpi dan harapan hidup lebih baik dan bermanfaat di masa depan, ketika menemui hambatan dan rintangan.

Detail:
Penulis: Fatwa Arifah
Bahasa: Indonesia
Bulan Terbit: September 2011
Halaman: Vii + 138hlm
ISBN 978-602-99996-1-7


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis







Thursday, December 28, 2017

Perbedaan Qira’at dan Pemaknaan

Hubungan perbedaan qira’at Alquran dengan makna ayat, dibagi menjadi dua, yaitu: perbedaan qira’at Alquran yang berpengaruh pada perubahan lafal tapi tidak pada makna ayat dan perbedaan qira’at Alquran yang berpengaruh pada perubahan lafal dan makna ayat sekaligus.

Adanya perbedaan qira’at atau bacaan dalam Alquran disebabkan beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain: perbedaan bacaan tersebut sudah ada sejak awal mula turunnya Alquran, adanya perbedaan bacaan dari nabi, dan faktor terakhir adalah disebabkan adanya lahjah atau dialek yang beraneka ragam di kalangan maasyarakat Islam ketika Alquran diturunkan.

Perbedaan makna ayat yang dihasilkan oleh berbagai perbedaan qira’at mutawatir yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt., berperan sangat penting untuk menjelaskan dan memperluas makna sesama ayat Alquran. Dilihat dari corak penafsiran Alquran, maka penulis lebih berpendapat bahwa penafsiran ayat Alquran dengan qira’at yang berbeda merupakan bagian dari tafsir bi alMa’thur, yaitu penafsiran ayat Alquran dengan ayat lainnya.

Detail:
Penulis: Masna Hikmawati
Bahasa: Indonesia
Tahun Terbit: 2017
Halaman: xiv+ 256 hlm
ISBN: 978-602-7775-94-7


Catatan:

silahkan membaca online pada tombol dibawah ini
untuk mengutif gunakan sesuai aturan yang berlaku

semoga buku ini bermanfaat dan menjadi amal baik bagi penulis






Dapatkan buku ini pada GooglePlay
Get on Google Play (Button via NiftyButtons.com)

Pesantren dan Spirit Kebangsaan

Pesantren dan Spirit Kebangsaan Membaca Kepemimpinan Kh. Mahrus Muhith Nahrawi dalam Menanamkan Cinta Tanah Air Pesantren mungkin tidak sela...